Update virus corona: Sindrom peradangan bisa merusak jantung anak-anak

Senin, 07 September 2020 | 14:56 WIB   Penulis: Belladina Biananda
Update virus corona: Sindrom peradangan bisa merusak jantung anak-anak

ILUSTRASI. Anggota Polri melakukan imbauan untuk menggunakan masker pada warga yang beraktivitas di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Minggu (6/9/2020).


KONTAN.CO.ID - Para peneliti di seluruh dunia terus melakukan penelitian tentang virus corona baru. Selain berusaha untuk segera menemukan vaksin virus corona, para peneliti juga memperhatikan efek samping penyakit Covid-19.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Eclinical Medicine menyebutkan, sindrom peradangan terkait Covid-19 memberikan efek yang luar biasa pada kesehatan jantung anak-anak. Itu menyebabkan jantung anak-anak perlu dimonitar sepanjang hidup.

Mengutip Financial Express, penelitian melibatkan lebih dari 600 pasien terinfeksi virus corona dengan sindrom multi-system inflammatory. Para peneliti mengambil kesimpulan: kondisi tersebut baru muncul pada anak-anak setelah tiga hingga empat minggu terinfeksi virus corona.

Selama tiga hingga empat minggu mengalami Covid-19, anak-anak tersebut tak menunjukkan sakit parah atau gejala apapun. Alvaro Moreira, peneliti dari The University of Texas Health Science Center, mengatakan, tak ada gangguan pernapasan Covid-19 menimbulkan kekhawatiran.

Baca Juga: Bisa selamatkan nyawa, ini masker terbaik dan terburuk untuk Covid-19

Moreira menyebutkan, mungkin keluarga pasien tidak menyadari bahwa anggota keluarganya terinfeksi virus corona. Mereka baru menyadari pasien setelah tiga hingga empat minggu dengan kesehatan jantung yang telah terganggu.

Dari 600 kasus yang diteliti, sebanyak 71 pasien harus dimasukkan ke Intensive Care Unit atau ICU. Dari 90% jantung pasien yang dipindai, sebanyak 54% pasien memiliki laporan abnormal. Lebih parahnya lagi, 11 anak-anak meninggal karena sindrom baru.

Menurut para peneliti, sindrom tersebut sangat mematikan dan mengganggu beberapa sistem tubuh, seperti jantung, paru-paru, dan sistem saraf. Meski demikian, para peneliti senang karena anak-anak sembuh setelah diberi pengobatan yang sama dengan penyakit kawasaki dan toxic shock syndrome.

Menyoroti permasalahan lain, para peneliti menyatakan, sebanyak 10% anak-anak yang diobservasi mengalami aneurisma pembuluh koroner yang menyebabkan risiko jangka panjang. Anak-anak tersebut perlu melakukan beragam ultrasound untuk melihat, apakah sindrom berkembang atau tidak.

Selanjutnya: Begini gejala virus corona menurut WHO, mulai paling umum hingga serius

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Belladina Biananda

Terbaru