Kesehatan Umum

Terlalu lama olahraga sepeda sebabkan impotensi, benarkah?

Senin, 17 Agustus 2020 | 06:52 WIB Sumber: Kompas.com
Terlalu lama olahraga sepeda sebabkan impotensi, benarkah?

ILUSTRASI. Terlalu lama olahraga sepeda sebabkan impotensi, benarkah? . KONTAN/Fransiskus Simbolon

KONTAN.CO.ID - Jakarta. Olahraga sepeda sudah menjadi tren di kota dan desa belakangan ini. Namun, tren olahraga sepeda memunculkan isu kesehatan yang meresahkan sebagian kalangan, terutama kaum laki-laki. Ada isu terlalu sering olahraga sepeda dapat memicu disfungsi ereksi atau impotensi. Tapi, benarkah demikian?

Jawabannya tergantung. Ya, jika...

Merangkum dari health.harvard.edu, sebuah riset yang dilakukan the Massachusetts Male Aging Study menemukan bahwa dalam keadaan tertentu, bersepeda dapat merusak saraf dan menekan arteri di penis. Inilah yang diyakini menyebabkan masalah ereksi.

Baca juga: Korea Selatan dan Amerika Serikat batalkan latihan militer gabungan, ada apa?

Risiko ini paling tinggi terjadi pada pria yang bersepeda selama lebih dari tiga jam seminggu. Alasan bersepeda dapat menyebabkan impotensi adalah karena sadel memberikan tekanan konstan pada perineum, area antara alat kelamin dan anus.

Tekanan tersebut dapat membahayakan saraf dan memperlambat aliran darah yang menyebabkan kesemutan atau mati rasa pada penis. Jika hal ini berlanjut maka disfungsi ereksi juga dapat terjadi.

Tidak selalu sebabkan disfungsi ereksi

Terkait asumsi tersebut, sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Urology tahun 2018 mungkin membuat para pehobi kayuh pedal ini bernapas lega. Dalam penelitian tersebut dijelaskan bahwa kesehatan seksual dan urologi tidak terkena dampak negatif karena bersepeda, terutama jika dibandingkan dengan renang atau lari

"Kami percaya hasilnya akan memberi semangat bagi para pesepeda," ungkap Dr Benjamin Breyer, co-author penelitian ini dikutip dari Newsweek.

"Bersepeda memberikan manfaat kardiovaskular yang luar biasa dan berdampak rendah pada sendi," sambung ahli urologi dari University of California-San Francisco tersebut.

Penelitian ini melibatkan 2.774 pesepeda, 539 perenang, dan 789 pelari. Para peneliti kemudian mengumpulkan berbagai kuesioner tentang kesehatan seksual, gejala prostat, dan gejala prostatitis kronis dalam tambahan pertanyaan mengenai infeksi saluran kemih, striktur uretra, mati rasa genital, dan luka di area selangkangan.

Editor: Adi Wikanto


Terbaru