Kesehatan Umum

Tekan Prevalensi Perokok, Masindo Sebut RI Bisa Contoh 3 Negara Ini

Senin, 23 Januari 2023 | 22:49 WIB   Reporter: Yudho Winarto
Tekan Prevalensi Perokok, Masindo Sebut RI Bisa Contoh 3 Negara Ini

ILUSTRASI. Rokok. 


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Produk tembakau alternatif, seperti produk tembakau yang dipanaskan, rokok elektrik atau vape, dan kantong nikotin, terbukti berhasil menurunkan angka perokok di sejumlah negara maju.

Dengan fakta tersebut, Pemerintah Indonesia diharapkan dapat memaksimalkan produk ini sebagai alternatif untuk menekan prevalensi merokok.

Ketua Masyarakat Sadar Risiko Indonesia (MASINDO) Dimas Syailendra R menjelaskan, angka perokok di Indonesia sudah menembus lebih dari 65 juta orang. Tingginya angka perokok tersebut dapat berdampak terhadap kualitas kesehatan masyarakat.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, pemerintah memerlukan pendekatan yang berbeda dengan memanfaatkan penggunaan produk tembakau alternatif.

Baca Juga: Tarif Cukai Naik pada Tahun 2023, Intip Prospek Saham HMSP dan GGRM Berikut Ini

Dimas melanjutkan pemanfaatan produk tembakau alternatif sebagai alat bantu untuk mengatasi permasalahan rokok sudah diberdayagunakan oleh Inggris, Jepang, dan Swedia. Berkat ragam produk tersebut, angka perokok di ketiga negara tersebut mengalami penurunan.

Hal ini sekaligus menegaskan bahwa produk tembakau alternatif merupakan alat bantu yang efektif bagi perokok dewasa yang kesulitan untuk berhenti merokok.

Berkat pemanfaatan produk tembakau alternatif, jumlah perokok di Inggris pada tahun 2021 mencapai sebesar 13,3% atau setara 6,6 juta jiwa. Angka ini mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun 2020 yang mencapai 14%.

Sementara di Jepang, prevalensi merokok pada tahun 2020 mencapai sekitar 20,10%, mengalami penurunan 0,40% dari tahun 2019. Selain itu, pada tahun 2022, prevalensi merokok di Swedia menurun menjadi sekitar 5,6% dari total populasi.

Hal ini membuat Swedia menjadi negara dengan tingkat prevalensi merokok paling rendah di Uni Eropa, bahkan salah satu yang terendah di dunia.

“Keberhasilan Inggris, Jepang, dan Swedia dalam mengurangi prevalensi merokok dapat menjadi acuan bagi Pemerintah Indonesia untuk menerapkan strategi serupa sebagai pelengkap dari berbagai program yang telah dijalankan selama ini. Kehadiran produk tembakau alternatif dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki kualitas kesehatan masyarakat,” ujar Dimas dalam keterangannya, Senin (23/1).

Baca Juga: Larangan Jual Rokok Batangan, PKL Ancam Kirim Surat Terbuka ke Jokowi

Sebagai langkah awal dalam pemanfaatan produk tembakau alternatif, pemerintah dan para pemangku kepentingan terkait, seperti kementerian/lembaga, perguruan tinggi, akademisi, pelaku usaha, dan komunitas perlu memberikan edukasi bagi masyarakat, khususnya perokok dewasa, mengenai informasi yang akurat tentang produk tersebut.

Tujuannya untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang perbedaan dan profil risiko produk tembakau alternatif dengan rokok.

Berdasarkan hasil sejumlah kajian ilmiah di dalam dan luar negeri, produk tembakau alternatif memiliki risiko yang lebih rendah daripada rokok karena tidak melalui proses pembakaran.

Karena tidak melalui proses pembakaran, produk tembakau alternatif tidak menghasilkan asap yang mengandung TAR yang dapat memicu berbagai penyakit berbahaya bagi penggunanya.

“Masih banyak misinformasi yang beredar di masyarakat yang menyebutkan bahwa produk tembakau alternatif memiliki risiko yang lebih tinggi daripada rokok. Hal ini salah. Faktanya, karena tidak melalui proses pembakaran, produk tembakau alternatif tidak menghasilkan asap dan memiliki risiko yang jauh lebih rendah daripada rokok,” tegas Dimas.

Kesuksesan ketiga negara tersebut membuktikan bahwa produk tembakau alternatif dapat menjadi pilihan bagi perokok dewasa untuk beralih ke produk tembakau yang lebih rendah risiko.

Baca Juga: Larangan Rokok Batangan, Ini Penjelasan Jokowi, Cek Bahaya Merokok Untuk Kesehatan

“Oleh karena itu, MASINDO optimis Pemerintah Indonesia dapat mengadopsi kebijakan yang telah diterapkan oleh Inggris, Jepang, dan Swedia dalam menekan prevalensi merokok,” tutup Dimas.

Selanjutnya: Perang Makin Berkobar, Polandia Berencana Kirim Tank Leopard ke Ukraina

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Yudho Winarto

Terbaru