HOME

Studi terbaru: Tetesan air liur manusia bisa terbang sejauh 6 meter

Kamis, 21 Mei 2020 | 10:37 WIB Sumber: South China Morning Post
Studi terbaru: Tetesan air liur manusia bisa terbang sejauh 6 meter

ILUSTRASI. Orang-orang yang memakai masker wajah di tengah kekhawatiran terhadap penyakit virus corona baru (COVID-19) di Pyongyang, Korea Utara 30 Maret 2020, dalam foto yang dirilis oleh Kyodo.

KONTAN.CO.ID - Menjaga jarak satu sama lain sejauh 2 meter mungkin tidak cukup untuk menghentikan penularan virus corona baru. Studi terbaru menunjukkan, dengan hanya angin ringan, bisa menyebarkan tetesan yang terinfeksi di antara orang-orang saat berada di luar ruangan

Otoritas kesehatan masyarakat di banyak negara mungkin perlu mempertimbangkan kembali pedoman atau protokol mereka, yang biasanya terdiri dari jarak sosial dan memakai masker, setelah publikasi dari sebuah makalah penelitian dalam jurnal Physics of Fluids.

Talib Dbouk dan Dimitris Drikakis, peneliti dari Universitas Nicosia di Siprus, mengatakan, 2 meter adalah perkiraan jarak yang aman dalam kondisi diam, dengan tetesan membutuhkan waktu sekitar 15 detik untuk jatuh di bawah tingkat pinggang manusia. 

Baca Juga: Gejala baru virus corona: Sulit berbicara dan halusinasi

Tapi, "Ketika seseorang batuk, kecepatan angin di lingkungan ruang terbuka secara signifikan memengaruhi jarak yang dilalui oleh tetesan pembawa penyakit di udara," kata mereka dalam makalahnya seperti dikutip South China Morning Post. 

Dengan menggunakan model dinamika fluida komputasi untuk membandingkan jarak yang ditempuh oleh tetesan air liur manusia dalam kondisi angin yang berbeda, para peneliti menemukan, tetesan bisa terbawa sejauh enam meter dalam lima detik dengan kecepatan angin hanya 4 km per jam. 

Dengan kecepatan 15 km per jam, angin bisa membawa tetesan pada jarak yang sama hanya dalam tempok 1,6 detik.

Baca Juga: Kasus corona lampaui angka 5 juta, infeksi di Amerika Latin melonjak

"Temuan kami menyiratkan, tergantung pada kondisi lingkungan, jarak sosial 2 meter mungkin tidak mencukupi," ujar Dbouk dan Drikakis yang menambahkan, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk pengaruh parameter lain, seperti kelembaban relatif dan suhu lingkungan.

Para peneliti juga memperingatkan, orang dewasa dengan tinggi badan lebih pendek dan anak-anak bisa berisiko lebih tinggi jika mereka berada dalam lintasan tetesan yang membawa virus corona, yang telah menginfeksi lebih dari 5 juta orang di seluruh dunia.


Editor: S.S. Kurniawan


Terbaru