kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.561.000   -13.000   -0,51%
  • USD/IDR 17.960   33,00   0,18%
  • IDX 5.864   -79,24   -1,33%
  • KOMPAS100 761   -9,05   -1,18%
  • LQ45 590   -4,50   -0,76%
  • ISSI 201   -3,89   -1,90%
  • IDX30 329   -2,36   -0,71%
  • IDXHIDIV20 423   -1,46   -0,34%
  • IDX80 87   -0,86   -0,97%
  • IDXV30 116   -0,59   -0,51%
  • IDXQ30 108   -0,38   -0,35%

Sexomnia, gangguan tidur berupa aktivitas seksual


Minggu, 02 Juli 2017 / 13:39 WIB


Sumber: intisari online | Editor: Hendra Gunawan

JAKARTA. Ternyata, selain sleep walking (berjalan sambil tidur), ada pula sexomnia alias seksomnia (melakukan aktivitas seksual saat tidur).

Gangguan tidur ini seolah “melengkapi” sekian banyak jenis gangguan tidur seperti insomnia (sulit tidur), hipersomnia (mudah tertidur) juga berjalan di saat tidur (sleep walking).

Sexomnia mencuri perhatian media belum lama ini setelah kasus unik yang dialami oleh pria asal Denmark.

Pria ini dibebaskan dari tuduhan perkosaan terhadap dua gadis remaja oleh hakim pengadilan karena terbukti menderita gangguan tidur jenis sexomnia.

Seperti dilansir Associated Press, dua gadis remaja itu pulang bersama pria berusia 31 tahun ini ke apartemen miliknya setelah sebuah pesta pada tahun 2011.

Salah satu gadis terbangun saat pria tersebut memeluknya, dan gadis ini pun kabur dan melaporkan peristiwa ini kepada pihak yang berwenang.

Berdasarkan kesaksian di pengadilan, gadis ini setuju dengan pengakuan si pria bahwa dirinya memang tertidur ketika hendak memperkosa.

Pria ini pun mengajukan bukti pemeriksaan medis dari dokter yang yang menyimpulkan bahwa ia sebenarnya menderita sexomnia.

Sexomnia yang juga dikenal dengan "sleep sex" belum lama ini diakui oleh komunitas medis sebagai salah satu jenis gangguan tidur.

Hampir sama seperti berjalan sleep walking, sexomnia juga dianggap sebagai parasomnia, suatu kelainan yang disebabkan otak tidak dapat membedakan saat tidur maupun terjaga.

Studi para ahli pada 2010 melakukan analisa terhadap 832 pasien yang menderita gangguan tidur. Ternyata 7,6 persen di antaranya menderita sexomnia. Temuan ini juga menyimpulkan bahwa sexomnia lebih banyak dialami oleh pria dibandingkan wanita.

Para ahli gangguan tidur dan seksolog sejauh ini masih belum dapat memastikan apa yang sebenarnya penyebab dari gangguan ini.

Namun ada faktor pemicu yang memperbesar risiko dari mengalami gangguan ini, seperti stres, alkohol, penggunaan narkoba, dan kurang tidur.

Mereka yang mengalami gangguan tidur seperti sleep walking lebih rentan juga menderita gangguan ini. (Mohamad Takdir)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Terpopuler
KONTAN10.10
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×