kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.764.000   -5.000   -0,18%
  • USD/IDR 17.680   99,00   0,56%
  • IDX 6.599   -124,08   -1,85%
  • KOMPAS100 874   -18,96   -2,12%
  • LQ45 651   -6,79   -1,03%
  • ISSI 238   -4,84   -1,99%
  • IDX30 369   -2,15   -0,58%
  • IDXHIDIV20 456   0,25   0,05%
  • IDX80 100   -1,80   -1,77%
  • IDXV30 128   -1,20   -0,93%
  • IDXQ30 119   -0,20   -0,17%

Setelah melahirkan bisa langsung pasang spiral


Senin, 01 Februari 2016 / 14:35 WIB


Reporter: Adi Wikanto | Editor: Adi Wikanto

Jakarta. Spiral (IUD) jadi salah satu alat kontrasepsi yang dianggap paling efektif dalam mencegah kehamilan dan jadi pilihan bagi ibu menyusui.

Pasalnya, kontrasepsi ini tidak berdasarkan hormonal, sehingga tidak mempengaruhi air susu ibu (ASI).

Lalu, kapan waktu tepat memakai KB spiral?

Dilansir Tabloid Nakita, pemasangan spiral harus dilakukan dalam kondisi sehat (tidak mengalami perdarahan atau infeksi).

Pemasangan spiral paling cepat dapat dilakukan pada 10 menit pertama setelah persalinan normal, dan masih dapat ditunggu sampai 3 hari.

Lewat dari 3 hari, pemasangan spiral harus menunggu sampai masa nifas selesai.

Jadwal pemasangan ini berkaitan dengan kondisi rahim yang tengah mengalami kontraksi untuk kembali ke ukuran semula.

Perlu diketahui, pemasangan spiral di masa nifas dikhawatirkan menyebabkan perlukaan atau perobekan pada rahim.

Sementara itu, pemasangan spiral setelah persalinan sesar dilakukan segera setelah operasi selesai.

Jika baru mengalami keguguran, pemasangan spiral dilakukan setelah operasi kuretnya selesai.

Ada anggapan, pemasangan sehabis bersalin menyebabkan spiral mudah terlepas.

Namun, riset membuktikan dari sekitar 100 ibu yang memakai spiral setelah bersalin hanya 4-5 orang saja yang mengalami kegagalan.

Angka kejadian yang sangat kecil ini berarti menunjukkan kontrasepsi spiral bisa dipakai untuk ibu pascamelahirkan.

Pemasangan spiral dilakukan di ujung puncak rahim oleh dokter kandungan/bidan yang kompeten.

Kontrasepsi spiral tidak akan mengganggu produksi ASI.

Spiral pun tidak menyebabkan kegemukan atau mengganggu siklus haid.

Copper T merupakan spiral yang paling umum digunakan dengan bahan tembaga.

Logam tembaga akan menghasilkan ion-ion yang dapat mencegah terjadinya kehamilan.

Namun, bahan pelindungnya yang terbuat dari plastik akan menimbulkan peradangan di endometrium (dinding bagian dalam rahim tempat menempelnya calon janin).

Alat kontrasepsi ini sebenarnya bisa bertahan hingga 8 tahun dan bisa dilepas kapan saja sesuai kebutuhan.

Setelah 8 tahun, spiral perlu diganti dengan yang baru.

Efek samping penggunaan spiral bagi yang tidak cocok atau karena kesalahan pemasangan (misalnya karena kurang steril) adalah rasa nyeri, timbul infeksi dan keputihan yang tidak sembuh-sembuh.

Haid para pengguna kontrasepsi spiral pun biasanya keluar lebih banyak (jika sebelumnya cukup 1 pembalut sekali pakai mungkin kini menjadi 2 pembalut).

Namun selama masa haidnya tetap (maksimal 7 hari) dan tidak mengalami anemia, maka tak jadi masalah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×