kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.878.000   -40.000   -1,37%
  • USD/IDR 16.901   42,00   0,25%
  • IDX 8.310   97,96   1,19%
  • KOMPAS100 1.169   11,37   0,98%
  • LQ45 839   8,86   1,07%
  • ISSI 297   2,12   0,72%
  • IDX30 438   6,14   1,42%
  • IDXHIDIV20 525   8,40   1,63%
  • IDX80 130   1,09   0,85%
  • IDXV30 143   1,04   0,73%
  • IDXQ30 141   2,01   1,45%

Risiko Puasa Anak: Waspada Maag, Dehidrasi, & Pusing Awal Ramadan


Rabu, 18 Februari 2026 / 16:32 WIB
Risiko Puasa Anak: Waspada Maag, Dehidrasi, & Pusing Awal Ramadan
ILUSTRASI. Mengajar Anak Berpuasa di Bulan Ramadan (TRIBUN JATENG/Hermawan Handaka)


Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pekan pertama Ramadan bukan hanya masa adaptasi bagi orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Perubahan jam makan dan tidur memicu lonjakan keluhan kesehatan, terutama gangguan pencernaan.

Laporan Indonesia Health Insights Report 2026 Q1 yang dirilis Halodoc mencatat gangguan pencernaan menjadi keluhan terbanyak pada awal puasa. Kasus maag dan GERD meningkat dibandingkan rata-rata mingguan sebelum Ramadan, dengan puncak keluhan konsisten muncul pada hari ketiga puasa dalam dua tahun terakhir.

Data ini mengindikasikan fase adaptasi tubuh paling berat terjadi di awal Ramadan. Tak sedikit pasien termasuk remaja mengeluhkan pusing berputar atau vertigo yang berkaitan dengan kurang tidur, dehidrasi, serta perubahan ritme biologis.

Pada anak dan remaja yang mulai belajar berpuasa, risiko dehidrasi dan pola makan tidak seimbang patut diwaspadai. Konsumsi makanan tinggi gula saat berbuka, kebiasaan begadang, serta kurangnya asupan cairan antara berbuka hingga sahur dapat memperburuk keluhan lambung dan sakit kepala.

“Pada anak dan remaja, kunci puasa sehat ada pada cukup cairan, tidur teratur, dan asupan gizi seimbang. Jika muncul keluhan berulang seperti nyeri lambung atau pusing berat, jangan dipaksakan,” ujar dokter spesialis anak Andi Pratama, dalam siaran pers, Rabu (18/2).

Baca Juga: Penderita Diabetes Minum Kopi, Baik atau Buruk?

Tak hanya persoalan pencernaan, laporan tersebut juga menyoroti kenaikan konsultasi gangguan menstruasi dan masalah kulit pada pekan pertama puasa. Keluhan siklus haid meningkat 44% dibandingkan rata-rata sebelum Ramadan 2025, sementara konsultasi jerawat naik 22%. Pada remaja putri, perubahan pola tidur dan asupan gizi berpotensi memengaruhi keseimbangan hormon.

Secara medis, perubahan drastis jadwal makan dan tidur berdampak langsung pada metabolisme, hormon, dan daya tahan tubuh. Anak dan remaja yang belum terbiasa berpuasa penuh lebih rentan mengalami lemas, nyeri lambung, hingga sulit berkonsentrasi di sekolah.

Karena itu, orang tua perlu lebih disiplin mengatur pola makan anak selama Ramadan. Hidrasi sebaiknya dipenuhi bertahap antara berbuka dan sahur. Asupan serat, protein, serta buah perlu ditingkatkan, sementara makanan tinggi gula dan minuman bersoda dibatasi. Aktivitas fisik ringan tetap dianjurkan, namun tidak berlebihan.

Untuk remaja putri dengan riwayat nyeri haid berat atau siklus tidak teratur, pemantauan lebih ketat diperlukan. Jika keluhan berulang dan mengganggu aktivitas belajar, konsultasi medis menjadi langkah yang rasional.

Ramadan memang menjadi momen pembelajaran bagi anak. Namun adaptasi biologis tidak bisa diabaikan. Tanpa pengaturan pola makan dan tidur yang tepat, puasa justru berisiko memicu gangguan kesehatan yang sebenarnya dapat dicegah sejak awal.

Baca Juga: Inilah 9 Buah untuk Menjaga Kesehatan Ginjal, Tinggi Antioksidan,

Selanjutnya: KPK: Eks Menhub Budi Karya Sumadi Tak Hadiri Pemeriksaan Sebagai Saksi Kasus DJKA

Menarik Dibaca: Jadwal Imsakiyah Majalengka Sepanjang Ramadhan 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Terpopuler
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! [Intensive Workshop] Excel for Business Reporting

[X]
×