Protokol kesehatan ketat diterapkan, kunci dine-in nyaman dan aman

Rabu, 15 September 2021 | 09:05 WIB   Reporter: Kenia Intan
Protokol kesehatan ketat diterapkan, kunci dine-in nyaman dan aman

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Seiring perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), sejumlah pelonggaran diterapkan oleh pemerintah. Salah satunya, dalam hal makan di tempat atau dine-in.

Asal tahu saja, sebelumnya pemerintah membatasi dine-in untuk mencegah penularan virus Covid-19. Pembatasan dengan melarang dine-in di tempat makan atau restoran itu sempat dilakukan saat PPKM Darurat.

Ketika itu, tempat makan hanya diizinkan melayani pesanan yang dibawa pulang atau take away. Kebijakan tersebut kemudian diperlonggar seiring dengan penurunan level PPKM.

Direktur PT Kino Indonesia Tbk (KINO) Budi Muljono mengaku, jarang dine-in di tempat makan atau restoran sejak pandemi Covid-19 masuk ke Indonesia di bulan Maret tahun lalu. Ia cenderung lebih hati-hati  ketika makan di luar.

Baca Juga: Kemenag bahas revisi aturan penyelenggaraan umrah di masa pandemi

Akan tetapi sejauh pengalamannya dine-in, rata-rata tempat makan yang ia kunjungi sudah menerapkan protokol kesehatan (prokes) yang baik.

Misalnya, pelayan melakukan pengecekan suhu sebelum pengunjung masuk, tempat makan memasang pembatas antar meja, dan kapasitas tempat makan pun dibatasi 50% saja.

Untuk meminimalisir kontak, menu disediakan dalam bentuk digital seperti scan barcode via telepon genggam. Di sisi lain, tempat makan menyediakan tisu basah food grade alcohol base untuk membersihkan peralatan makan.

"Dengan prokes-prokes yang diterapkan, saya jadi lebih tenang untuk makan di tempat," jelas Budi kepada Kontan.co.id, Selasa (14/9).

Budi menambahkan, selama pandemi Covid-19, penerapan prokes yang baik dari suatu tempat makan menjadi salah satu pertimbangan sebelum dine-in.

Sementara itu, Analis Philip Sekuritas Helen menceritakan, baru sekali dine-in di tempat makan atau restoran sejak Covid-19 masuk ke Indonesia.

Pada saat itu, tempat makan yang dikunjunginya sudah menerapkan prokes yang baik, seperti petugas restauran menggunakan masker, face shield, dan sarung tangan plastik.

Selain itu, jumlah mejanya pun dikurangi sehingga tempat makan menjadi lebih lenggang dan bisa menerapkan jaga jarak antar meja.

Kendati tempat makan sudah menerapkan prokes dengan baik dan pengunjung yang datang cenderung sepi, Helen tetap merasakan cemas sehingga makan pun menjadi tidak tenang.

Baca Juga: Syarat terbaru naik kereta api komuter dan jarak dekat mulai 14 September 2021

Kecemasan ini datang dari  pengunjung lain yang kurang  memiliki kesadaran, salah satunya tidak mau menjaga jarak. Sejak saat itu, ia lebih memilih membawa pulang makanannya atau take away.

Walaupun lebih sering take away, Helen tetap mempertimbangkan tempat makan yang dikunjunginya.

" Tempat makan yang sepi pengunjung dan menjaga jarak. Kalau ramai enggak mau masuk," jelasnya kepada Kontan.co.id, Selasa (14/9).

Editor: Yudho Winarto
Terbaru