kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Penggundulan hutan Amazon meningkatkan penularan penyakit malaria


Kamis, 16 Januari 2020 / 10:00 WIB
Penggundulan hutan Amazon meningkatkan penularan penyakit malaria
ILUSTRASI. Penggundulan hutan di Amazon

Reporter: Tri Sulistiowati | Editor: Tri

KONTAN.CO.ID - Hasil penelitian ilmuwan menunjukkan hasil yang mengejutkan. Fakta penelitian menyebutkan penggundulan hutan di Amazon meningkatkan jumlah penularan penyakit malaria.

Sekedar info, penelitian tentang hubungan deforestasi dengan penularan malaria ini dilakukan oleh Andy MacDonald, Ahli Ekologi UC Barbara dan Erin Mordecai, Ilmuwan dari Stanford.

Baca Juga: Ilmuwan temukan cara kurangi pestisida dan pupuk pada tanaman

Dalam penelitian ini, para ilmuwan tidak hanya mempelajari catatan kesehatan masyarakat dan sosial demografi yang dibuat oleh Pemerintah Brazil.

Mereka juga menggunakan data satelit untuk mendapatkan kesimpulan dari penelitian tersebut. Hasilnya, meningkatnya aksi deforestasi meningkatkan lebih banyak penularan malaria.

"Penggundulan hutan tidak hanya menjadi bencana ekologis tapi juga ancaman bagi kesehatan manusia," kata Mordecai.   

Mac Donald menjelaskan ketika pemerintah Brazil memberikan insentif pada pemukiman Amazon, saat itu terjadi lonjakan peningkatan penularan malaria.

Fakta penelitian lainnya pun muncul yakni penularan malaria mempengaruhi produktivitas dan kesejahteraan populasi yang tinggal di pedalaman Amazon.

"Setiap kasus (penularan malaria) yang muncul membuat aksi penggundulan hutan berkurang sekitar 0,07 kilometer persegi," jelas Mordecai.

Mereka mempublikasikan hasil penelitian tersebut di dalam Journal Proceedings of National Academy of Sciences. Penelitian ini didanai oleh National Science Foundation (NSF).

Baca Juga: Ini cara ilmuwan membuat tanaman coklat tahan terhadap parasit

"Perubahan lingkungan yang dibuat oleh manusia memiliki efek yang tidak terduga untuk kesehatan manusia," kata Sam Scheiner, Direktur Program Divisi Biologi Lingkungan NSF.

 

Sumber : National Science Foundation  




TERBARU

Close [X]
×