Penyakit Menular

Pasien Covid-19 pria lebih banyak meninggal dibanding wanita? Cek faktanya

Selasa, 01 September 2020 | 15:04 WIB   Reporter: Belladina Biananda
Pasien Covid-19 pria lebih banyak meninggal dibanding wanita? Cek faktanya

ILUSTRASI. Pasien Covid-19 pria lebih banyak meninggal dibanding pasien wanita.


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Meski tingkat penularan virus corona baru pada wanita hampir sama dengan pria, pasien Covid-19 pria menderita penyakit yang lebih serius, terlepas dari usia dan wilayah. Faktanya, sebanyak 60% pasien pria lebih banyak meninggal dari pasien wanita.

Mengutip Ladders (theladders.com), fakta tersebut lantaran ketidakseimbangan jumlah pria dengan gejala virus corona yang sudah ada sebelumnya. Selain itu, wanita memiliki respons autoimun yang lebih efektif karena produksi sel darah putih yang mematikan antigen.

Keuntungan biologis tersebut dieksplorasi pada peneliltian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature. Perbedaan jenis kelamin berpengaruh pada dampak virus corona yang menyerang tubuh manusia. 

Meski demikian, belum diketahui, apakah perbedaan jenis kelamin menyebabkan perbedaan respons imun atau tidak. Dalam makalah tersebut, penulis menyebutkan, penelitian menguji perbedaan jumlah virus, plasma sitokin, phenotyping sel darah, dan virus corona specific antibody titers pada pasien.

Baca Juga: Angela Merkel: Virus corona akan memburuk dalam beberapa bulan mendatang

Peneliti juga mengumpulkan air liur dan sampel darah dari individu yang tak terinfeksi virus corona dan pasien yang sebelumnya dinyatakan positif Covid-19. Kemudian, peneliti memonitor pasien untuk melihat respons imun.

Data menunjukkan, wanita memiliki cadangan T lymphocytes yang memengaruhi respons tubuh terhadap benda asing. Di sisi lain, pria memproduksi sitokin atawa protein inflamasi lebih banyak.

Penelitian berfokus pada pasien yang belum menerima perawatan immunomodulatory. Hasilnya, pasien pria memiliki lebih banyak plasma imun sitokin, seperti IL-8 dan IL-18, beserta induksi non-classical monocytes.

Saat melawan virus, sitokin menempel pada reseptop sel yang berdekatan. Saat produksi sitokin berlebih, mereka masuk ke aliran darah dan mulai menyerang sel yang masih sehat. Itulah yang disebut dengan “cytokine storm”.

Baca Juga: Hati-hati! Ini yang terjadi jika virus Corona menginfeksi paru-paru

Melansir Ladders, seseorang yang mengalami cytokine storm berisiko lebih besar mengalami demam, kebocoran vaskular, kerusakan jaringan hingga organ, dan kematian. Pada wanita, cytokine storm lebih mematikan dari pria.

Kelebihan penelitain tersebut berkaitan dengan perkembangan terapi. Dengan pemahaman segi biologis yang lebih baik, penentuan respons autoimun terhadap virus corona bisa lebih baik. Para peneliti bisa mengasah daftar pengganti klinis.

Editor: Belladina Biananda


Terbaru