Pakai dua masker sekaligus lebih baik dibanding satu? Ini kata para ahli

Rabu, 10 Februari 2021 | 15:29 WIB Sumber: Reuters
Pakai dua masker sekaligus lebih baik dibanding satu? Ini kata para ahli

ILUSTRASI. Wakil Presiden Kamala Harris dan suaminya Doug Emhoff tiba untuk pelantikan Joe Biden sebagai Presiden ke-46 Amerika Serikat di Front Barat Capitol di Washington, AS, 20 Januari 2021.


KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Dalam hal melindungi diri Anda dari virus corona baru, memakai dua masker sekaligus mungkin lebih baik dari satu.

Sejumlah politisi, termasuk Wakil Presiden Amerika Serikat Kamala Harris, terlihat menggunakan dua masker. 

Dan, pakar penyakit menular ternama Anthony Fauci merekomendasikan agar orang Amerika setiap hari melakukan hal yang sama.

Lalu, bagaimana cara yang "benar" mengenakan masker untuk mencegah virus corona?

Dokter serta profesional kesehatan masyarakat mengatakan, perlindungan apa pun lebih baik daripada tidak sama sekali.

Baca Juga: WHO dorong penelitian Long Covid yang lebih masif, apa itu Long Covid?

“Jenis masker yang tepat adalah yang dipakai secara konsisten di atas hidung dan mulut setiap kali Anda berada di ruang publik,” kata Dr. Matt Binnicker, Presiden Pan American Society for Clinical Virology. 

"Pada titik ini, kita harus lebih fokus pada pencapaian tujuan itu dibandingkan mengkhawatirkan penggunaan (masker) ganda," ujar dia dalam obrolan di Twitter bertajuk #AskReuters.

Bergantung pada tujuan

Jenis dan jumlah masker yang Anda butuhkan akan bergantung pada tujuan Anda, menurut Dr. Josh Schiffer, profesor di Fred Hutchinson Cancer Research Center.

“Sangat penting untuk menyembunyikan secara efektif dan konsisten saat berada di lingkungan berisiko tertinggi untuk acara penyebar super,” sebut dua.

Schiffer merekomendasikan mengenakan masker kain saat berjalan-jalan dengan anjing peliharaan, misalnya. Dan, meningkatkan ke KN95, N95, atau masker ganda saat pergi ke kantor, gerai ritel modern, atau klinik.

Baca Juga: Hindari! Ini 6 tempat dengan risiko tinggi penularan virus corona menurut WHO

Editor: S.S. Kurniawan
Terbaru