kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.796.000   -3.000   -0,11%
  • USD/IDR 17.358   4,00   0,02%
  • IDX 6.957   -144,42   -2,03%
  • KOMPAS100 936   -21,42   -2,24%
  • LQ45 669   -14,80   -2,16%
  • ISSI 251   -4,43   -1,74%
  • IDX30 373   -6,79   -1,79%
  • IDXHIDIV20 458   -7,34   -1,58%
  • IDX80 105   -2,51   -2,34%
  • IDXV30 134   -2,24   -1,64%
  • IDXQ30 119   -2,51   -2,07%

Orangtua stres, anak rawan obesitas


Selasa, 10 November 2015 / 16:02 WIB


Sumber: Kompas.com | Editor: Adi Wikanto

JAKARTA. Sebuah penelitian terbaru kembali mengungkapkan hubungan stres dengan meningkatknya risiko obesitas atau kelebihan berat badan.

Kali ini, penelitian mengungkapkan bahwa orangtua yang sering stres, lebih berisiko dua kali lipat memiliki anak obesitas dibanding yang tidak stres.

Dikutip dari Time.com, para peneliti yang dipimpin oleh dokter Carmen Isasi dari Albert Einstein College of Medicine di New York melakukan survei terhadap penduduk di Latino.

Hasilnya, lebih dari satu dari empat anak (28 persen) berusia 8-16 tahun menjadi gemuk dan satu dari tiga (29 persen) orangtua mereka mengaku memiliki tingkat stres yang tinggi.

Peneliti menganalisis data berat badan anak-anak dan tingkat stres orang tua.

Kemudian, peneliti mengikuti pedoman dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat mengenai status berat badan anak dan mengukur skala stres seseorang.

Stres yang terjadi pada orangtua biasanya karena masalah hubungan antara suami istri dan masalah pekerjaan.

Para peneliti menemukan, prevalensi obesitas pada anak meningkat seiring tingkat stres orangtua.

Dari penelitian ini juga terlihat, orangtua yang mengalami tiga atau lebih tingkat stres, akan dua kali lebih mungkin memiliki anak obesitas daripada orangtua yang tidak mengalami stres.

Penelitian ini menguatkan hasil studi sebelumnya, yang menjelaskan bahwa orangtua dengan tingkat stres tinggi cenderung akan selalu membeli makanan junk food maupun siap saji, sehingga anak-anak mereka lebih sering konsumsi makanan itu.

Orangtua juga jadi tidak memerhatikan pola makan anak dan anak malas olahraga.

Kebiasaan tidak sehat ini akhirnya berujung pada kegemukan.

Penelitian ini telah dipresentasikan pada pertemuan tahunan The Obesitas Society di Los Angeles.

Margarita Teran-Garcia, dokter dari The Obesitas Society, menilai masalah obesitas jangan hanya menjadi peringatan kepada orang dewasa, tetapi juga abak-anak mereka.

Anak-anak yang obesitas, saat dewasa lebih berisiko terkena penyakit jantung, stroke, dan diabetes.

(Dian Maharani)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Capital Structure

[X]
×