kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45925,39   1,27   0.14%
  • EMAS1.115.000 0,45%
  • RD.SAHAM 0.09%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Mirip Diabetes Militus, Bagaimana Pencegahan Diabetes Insipidus?


Selasa, 14 Maret 2023 / 04:55 WIB
Mirip Diabetes Militus, Bagaimana Pencegahan Diabetes Insipidus?


Sumber: Kementerian Kesehatan RI | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - Jakarta. Pencegahan diabetes insipidus adalah hal yang sulit dilakukan. Pasalnya, penyakit ini adalah langka dengan penyebab yang spesial.

Namun, pencegahan diabetes insipidus tetap bisa dilakukan. Walaupun, pencegahan diabetes insipidus ini bukanlah cara yang efektif.

Mengutip website Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Diabetes insipidus adalah kondisi di mana seseorang terus merasa haus dan menyebabkan produksi urine yang berlebih dari tubuh. Hal ini disebabkan oleh ketidakseimbangan cairan dalam tubuh.

Diabetes insipidus adalah kondisi yang termasuk langka dan dapat terjadi pada siapa saja. Penyakit Diabetes insipidus dapat menjadi penyakit bawaan maupun didapat.

Penyebab diabetes insipidus adalah akibat gangguan pada Anti-Diuretic Hormone (ADH) atau yang memiliki nama lain vasopressin (AVP). Hormon ini diproduksi di hipotalamus yang ada di otak.

Baca Juga: Ini Manfaat Kiwi untuk Kesehatan Penderita Diabetes

Setelah itu vasopressin akan disimpan di kelenjar pituitari hingga dibutuhkan. Kelenjar ini terdapat di belakang pangkal hidung, di bawah otak Anda. Vasopressin atau AVP bertugas untuk mengatur kadar cairan dalam tubuh dengan cara mengontrol kadar urine yang dihasilkan oleh ginjal.

Kelenjar pituitari akan melepaskan AVP ketika tingkat air dalam tubuh menurun, sehingga tubuh menghemat air dan menghentikan produksi urin.

Perbedaan Diabetes insipidus dengan Diabetes melitus

Meski nama dan gejala utamanya mirip dengan diabetes melitus, kedua kondisi ini sebenarnya sangat berbeda. Diabetes insipidus dan Diabetes melitus sama-sama menyebabkan gejala sering minum dan sering buang air kecil.

Namun, tidak seperti diabetes melitus, diabetes insipidus tidak terkait dengan kadar gula dalam darah. Proses munculnya kondisi ini juga tidak berkaitan dengan pola makan atau gaya hidup seperti diabetes mellitus pada umumnya.

Penyebab Diabetes Insipidus

Hormon antidiuretik (ADH) adalah hormon yang berfungsi membatasi pembuangan cairan tubuh dalam bentuk urine berdasarkan tingkat kebutuhan cairan tubuh saat itu. Jika tubuh sedang membutuhkan lebih banyak cairan, ADH akan bekerja dan tubuh akan memproduksi lebih sedikit urine.

Penyebab Diabetes insipidus adalah bila tubuh kekurangan ADH atau bila kerja ADH terganggu. Dengan kata lain, semua kondisi yang menyebabkan kekurangan atau gangguan pada hormon tersebut dapat menjadi penyebab diabetes insipidus.

Berikut ini adalah penyebab diabetes insipidus berdasarkan jenisnya :

1.      Diabetes Insipidus Kranial

Diabetes insipidus kranial atau diabetes insipidus sentral terjadi akibat kerusakan pada hipotalamus atau kelenjar pituitari. Hipotalamus adalah bagian otak yang memproduksi ADH, sedangkan kelenjar pituitari merupakan organ tempat penyimpanan ADH.

Kerusakan pada hipotalamus atau kelenjar pituitari menyebabkan produksi ADH terganggu. Beberapa penyebab Diabetes Insipidus Kranial adalah :

  • Tumor otak
  • Cedera kepala berat.
  • Operasi otak atau kelenjar pituitari.
  • Kelainan genetik, seperti sindrom Wolfram.
  • Infeksi otak, seperti ensefalitis atau meningitis.
  • Kerusakan otak akibat kekurangan aliran darah atau oksigen, misalnya karena stroke dan tenggelam.

Dari seluruh kasus diabetes insipidus kranial, ada sepertiga yang tidak diketahui penyebabnya (idiopatik).

2.      Diabetes Insipidus Nefrogenik

Diabetes insipidus nefrogenik terjadi akibat kelainan pada struktur ginjal sehingga ginjal tidak dapat merespons ADH dengan baik. Kelainan ini dapat disebabkan oleh kelainan genetik yang dialami sejak lahir (congenital nephrogenic diabetes insipidus).

Selain itu, penyebab diabetes insipidus nefrogenik bisa karena penyakit lain yang berkembang setelah dewasa (acquired nephrogenic diabetes insipidus). Contohnya adalah :

  • Efek samping penggunaan lithium jangka panjang.
  • Penyumbatan saluran kemih.
  • Hiperkalsemia (kadar kalsium berlebih).
  • Hipokalemia (kadar kalium berlebih).
  • Penyakit ginjal kronis.

3.      Diabetes Insipidus Dipsogenik

Diabetes insipidus dipsogenik disebabkan oleh gangguan pada pengiriman sinyal rasa haus dari otak. Gangguan ini yang menyebabkan penderita selalu merasa sangat haus, sehingga ia akan minum dalam jumlah yang melebihi kebutuhannya.

Sama seperti pada diabetes insipidus kranial, gangguan pada pengiriman sinyal rasa haus di otak dapat terjadi akibat kondisi berikut :

  • Cedera kepala
  • Infeksi atau peradangan
  • Tumor otak
  • Operasi otak

4.      Diabetes Insipidus Gestasional

Diabetes insipidus gestasional adalah jenis diabetes insipidus yang hanya dialami oleh ibu hamil. Kondisi ini bisa terjadi ketika plasenta menghasilkan enzim yang merusak ADH. Selain itu, produksi prostaglandin yang meningkat juga bisa menyebabkan ginjal menjadi kurang sensitif terhadap ADH.

Diabetes insipidus gestasional jarang terjadi dan biasanya sembuh setelah melahirkan. Namun, kondisi ini bisa berulang pada kehamilan berikutnya.

Gejala Diabetes Insipidus

Gejala Diabetes Insipidus yang umumnya dialami oleh penderita diabetes insipidus antara lain :

  • Selalu merasa sangat haus meski sudah minum banyak air.
  • Sering buang air kecil dalam jumlah banyak, baik di siang maupun malam hari.
  • Urine berwarna pucat atau tidak berwarna.
  • Sering terbangun di malam hari untuk buang air kecil atau malah mengompol saat sedang tidur.
  • Lelah, mudah marah, dan sulit berkonsentrasi dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Sementara itu, diabetes insipidus pada bayi dan anak-anak dapat sulit dikenali, apalagi jika mereka belum bisa berkomunikasi dengan baik. Namun, anak-anak dengan kondisi ini umumnya menunjukkan gejala Diabetes Insipidus sebagai berikut :

  • Suhu tubuh tinggi atau hipertermia.
  • Sembelit
  • Sulit tidur
  • Mengompol saat sedang tidur.
  • Rewel atau mudah marah.
  • Kehilangan selera makan.
  • Muntah
  • Berat badan menurun tanpa sebab yang jelas.
  • Selalu merasa lelah dan letih.
  • Pertumbuhan lebih lambat dari anak seusianya.

Pencegahan diabetes insipidus

Diberitakan Kompas.com, Pencegahan Diabetes insipidus tidak dapat dicegah. Paling sering, kondisi ini dikaitkan dengan masalah kesehatan lain.

Menghindari faktor risiko yang menyebabkan diabetes insipidus bisa dipraktikkan untuk pencegahan diabetes insipidus.

Masih dari pemberitaan Kompas.com, diabetes insipidus terjadi ketika ginjal tidak dapat memekatkan urine secara normal dan sejumlah besar urin encer diekskresikan. Jumlah air yang diekskresikan dalam urin dikendalikan oleh hormon antidiuretik (ADH).

diabetes insipidus yang disebabkan oleh kekurangan ADH disebut diabetes insipidus sentral. Ketika DI disebabkan oleh kegagalan ginjal untuk merespon ADH, kondisi ini disebut diabetes insipidus nefrogenik.

Nefrogenik artinya berhubungan dengan ginjal. DI pusat jarang terjadi. Jika terjadi, jenis ini dapat disebabkan oleh kerusakan pada hipotalamus atau kelenjar pituitari sebagai akibat dari:

  • Masalah genetik
  • Cedera kepala (penyebab umum)
  • Infeksi di otak
  • Masalah dengan sel penghasil ADH karena penyakit autoimun
  • Hilangnya suplai darah ke kelenjar hipofisis
  • Pembedahan di area kelenjar pituitari atau hipotalamus (penyebab paling umum)
  • Tumor di atau dekat kelenjar pituitari.

Diabetes insipidus nefrogenik melibatkan defek pada ginjal. Akibatnya, ginjal tidak merespon ADH. Diabetes insipidus nefrogenik sangat jarang dan dapat disebabkan oleh:

  • Obat-obatan tertentu, seperti lithium
  • Masalah genetik
  • Tingginya kadar kalsium dalam tubuh (hiperkalsemia)
  • Penyakit ginjal, seperti penyakit ginjal polikistik.

Itulah penjelasan tentang apa itu penyakit Diabetes Insipidus beserta pencegahan yang dapat dilakukan. Ingat, Diabetes Insipidus berbeda dengan Diabetes melitus.



 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Negotiation For Everyone Developing Policies and Procedures for Banks

[X]
×