Mengenal penyakit gerd, gejala, obat dan penanganannya

Rabu, 23 September 2020 | 15:43 WIB Sumber: Kompas.com
Mengenal penyakit gerd, gejala, obat dan penanganannya

ILUSTRASI. Mengenal penyakit gerd, gejala, obat dan penanganannya


KONTAN.CO.ID - Jakarta. Penyakit gerd atau Gastroesophageal reflux disease merupakan penyakit asam lambung yang cukup umum dialami oleh masyarakat. Penyakit ini utamanya menimbulkan gejala berupa nyeri ulu hati, nyeri dada, sulit menelan makanan, dan tenggorokan terasa mengganjal. Menjadi penyakit yang sering dikeluhkan masyarakat, apa sebenarnya penyebab Gerd?

Penyebab Gerd adalah naiknya asam lambung ke kerongkongan akibat otot katup di bagian bawah kerongkongan (otot LES) menjadi lemah atau berada dalam kondisi rileks. Idealnya, saat kita menelan makanan, otot LES di bawah kerongkongan akan membuka untuk membiarkan makanan dan minuman turun ke lambung. Setelah makanan turun, otot katup tersebut akan menutup kembali.

Namun, apabila katup tersebut menjadi rileks dengan tak wajar atau mungkin melemah, asam lambung dapat naik menuju kerongkongan. Paparan asam lambung tersebut dapat mengiritasi dinding kerongkongan dan berisiko memicu peradangan.

Dinding kerongkongan tidaklah sama dengan dinding lambung, membuatnya juga tidak dapat menoleransi asam sehingga mudah rusak. Kondisi inilah yang disebutkan menjadi penyebab Gerd dan gejala-gejalanya yang dirasakan pasien.

Baca juga: Daftar makanan untuk kesehatan mata yang mudah didapatkan selain wortel

Beragam faktor risiko penyakit Gerd

Selain penyebab Gerd di atas, kita juga harus mengenali beberapa kondisi yang menjadi faktor risiko penyakit gerd ini. Faktor risiko penyakit Gerd adalah:

1. Obesitas

Obesitas atau kondisi berat badan berlebih dapat meningkatkan tekanan terhadap perut dan memperburuk gejala Gerd. Walau kaitan antara obesitas dengan penyakit Gerd belum diketahui dengan jelas, kondisi berat badan berlebih ini dapat menjadi faktor risiko Gerd.

2. Menderita hernia hiatus

Hernia hiatus terjadi ketika bagian atas lambung mendorong masuk ke dalam rongga dada melalui diafragma. Kondisi ini dapat menurunkan tekanan pada katup LES – yang kemudian memicu kenaikan asam lambung.

3. Sedang hamil

Ibu hamil rentan mengalami nyeri ulu hati yang kemudian juga dapat berujung pada penyakit Gerd. Saat sedang hamil, kadar hormon estrogen dan progesteron akan meningkat. Peningkatan hormon ini dapat merilekskan otot LES. Kondisi kehamilan juga menimbulkan tekanan berlebih pada rongga perut.

4. Menderita skleroderma

Skleroderma adalah penyakit autoimun yang menyebabkan kulit dan organ tubuh lainnya menjadi keras dan tebal. Skleroderma menimbulkan produksi kolagen menjadi berlebih. Ekstra kolagen tersebut kemudian tersimpan di dalam kulit namun juga bisa disimpan di organ lain, termasuk otot kerongkongan dan dinding usus.

Pada kasus skleroderma yang parah, bagian bawah kerongkongan (termasuk LES) mengeras dan menebal yang kemudian juga mengganggu fungsinya. Kondisi ini dapat mengganggu lalu lintas turunnya makanan menuju lambung – atau berisiko memberi jalan untuk asam lambung naik menuju kerongkongan dan memicu penyakit Gerd.

5. Pencernaan makanan yang terlalu lambat

Penderita penyakit Gerd juga disebutkan memiliki fungsi otot atau saraf lambung yang tidak normal. Fungsi lambung yang abnormal tersebut membuat makanan dicerna terlalu lambat. Kondisi ini kemudian memicu pengosongan lambung menjadi tertunda – sehingga memberikan tekanan di dalamnya dan meningkatkan kemungkinan naiknya asam lambung.

Editor: Adi Wikanto


Terbaru