kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.845
  • SUN92,51 0,63%
  • EMAS614.076 0,00%

Mengenal gagal ginjal seperti yang diderita Eko DJ

Rabu, 29 Maret 2017 / 15:37 WIB

Mengenal gagal ginjal seperti yang diderita Eko DJ



JAKARTA. Pelawak senior Eko Ndaru Djumadi atau Eko DJ (65) meninggal dunia pada Senin (27/3/2017) karena penyakit gagal ginjal yang sudah cukup lama dideritanya. Penyakit ini sebenarnya banyak terjadi di Indonesia.

Gagal ginjal terjadi jika ginjal tidak dapat melakukan tugasnya menyaring produk sisa keluar dari darah dengan baik. Kondisi ini dapat terjadi bertahun-tahun tanpa diketahui sampai terjadi kerusakan parah.


Sekitar dua pertiga kasus gagal ginjal pada orang dewasa diakibatkan karena diabetes dan tekanan darah tinggi yang tidak diobati. Penyebab lain gagal ginjal adalah infeksi, cedera, terkena racun, atau obat-obatan.

Penyakit gagal ginjal bisa dideteksi dengan melakukan pemeriksaan urine untuk mengukur jumlah protein. Adanya kadar protein yang berlebihan dalam sampel urine biasanya menjadi pertanda adanya kerusakan nefron (unit penyaring pada ginjal).

Jika pemeriksaan darah dan urine menunjukkan adanya penurunan pada fungsi ginjal, dokter akan melakukan pemeriksaan USG ginjal.

Seperti dikutip dari Mayo Clinic, gagal ginjal kronis akan mengenai hampir semua sistem tubuh. Penyakit ini bahkan dapat berkembang menjadi penyakit ginjal stadium akhir. Jika ini terjadi, maka ginjal berhenti berfungsi dan pilihanya hanyalah cuci darah atau cangkok ginjal untuk mempertahankan hidup.

Menurut Irsyal Rusad, spesialis penyakit dalam, bila ginjal yang sudah mengalami kerusakan tidak digantikan fungsinya, maka sisa-sisa sampah proses metabolisme tubuh,  toksin seperti urea, kreatinin, kelebihan cairan, dan sebagainya akan menumpuk dalam tubuh.

Kondisi ini dapat menyebabkan bermacam keluhan, seperti sesak nafas, mual, muntah, tubuh bengkak, hipertensi dan bahkan kematian mendadak.

"Jadi, kalau memang sudah mengalami gagal ginjal yang harus menjalani cuci  darah, sesuai dengan rekomendasi dokter yang merawat, keluhan itu akan dialaminya," katanya kepada Kompas.com, 20 April 2014.

Pilihan terapi pengobatan lainnya adalah cangkok ginjal. Prosedur ini sudah mengalami banyak kemajuan dan aman. Dokter-dokter di Indonesia juga sudah banyak melakukannya. Persoalannya adalah mencari donor yang memiliki kesesuaian antara jaringan donor dan penerima.

(Lusia Kus Anna)


Sumber : Kompas.com
Editor: Adi Wikanto

KESEHATAN

TERBARU
Seleksi CPNS 2018
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0012 || diagnostic_api_kanan = 0.0603 || diagnostic_web = 0.6336

Close [X]
×