Mencegah bayi kembar siam?

Rabu, 20 Januari 2016 | 14:25 WIB Sumber: Kompas.com
Mencegah bayi kembar siam?


Jakarta. Kasus bayi kembar siam kembali terjadi di Indonesia.

Namun, bayi kembar siam dempet dada hingga perut atau thoracoabdominopagus meninggal dunia setelah dilahirkan lewat prosedur penghentian kehamilan, Selasa (19/1) di RSUD Dr Soetomo Surabaya.

Kembar siam merupakan risiko yang mungkin terjadi saat kehamilan kembar.

Bayi kembar siam, yaitu bayi kembar yang lahir dengan kondisi fisik menyatu. Terkadang mereka juga berbagi organ-organ vital sehingga peluang hidupnya amat tipis.

Sayangnya, kemungkinan terjadinya kembar siam tidak bisa dicegah.

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi dari Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta, Yassin Yanuar mengungkapkan, kembar siam bisa terjadi ketika sel telur yang telah dibuahi sperma tidak membelah sempurna.

Proses pembelahan pada kasus kembar siam pun biasanya terlambat atau lebih dari 13 hari setelah pembuahan.

"Kembar siam enggak bisa dicegah karena kita tahunya kan setelah pembelahan. Saat pembelahan, prosesnya enggak terlihat kasat mata," kata Yassin di Jakarta, Selasa (19/1/2016).

Setelah proses itu, barulah diketahui muncul dua janin kembar dan ternyata terjadi kegagalan pemisahan embrio yang menyebabkan bayi dempet.

Ia menjelaskan, kembar siam dapat dilihat dengan USG pada usia kehamilan sekitar 8 minggu.

Setelah itu, tim dokter akan terus memantau kehamilan dengan ketat, misalnya mendeteksi perkembangan jantung masing-masing bayi.

Bayi kembar siam pun akan ditangani oleh banyak dokter spesialis, seperti bedah anak, jantung, hingga saraf.

Mengenai usia harapan hidup bayi kembar siam, menurut Yassin bisa berbeda-beda tergantung masalahnya.

"Usia harapan hidup butuh pengkajian yang lebih dalam dan luas. Misalnya bagian jantung, pembuluh darahnya bagaimana. Rumit sekali. Dilihat kembar siam dempet di mana, bisa bagian kepala, dada, perut," kata Yassin.

Baca juga: Bayi Kembar Siam Satu Jantung di Surabaya Meninggal Dunia

(Dian Maharani)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Adi Wikanto

Terbaru