Tips Sehat

Makanan yang dibakar mengandung kalori lebih rendah dan sehat?

Senin, 20 April 2020 | 20:02 WIB Sumber: Kompas.com
Makanan yang dibakar mengandung kalori lebih rendah dan sehat?

ILUSTRASI. Sate Taichan.foto/KONTAN/Elisabeth Adventa


KONTAN.CO.ID - Hampir semua orang mengakui bahwa daging yang dimasak di atas api rasanya lezat, dan banyak orang beranggapan bahwa daging, unggas, dan ikan yang dibakar cenderung lebih rendah kalori dan lemak daripada digoreng. 

Meski demikian, memasak bakaran bukan berarti tanpa risiko. Memasak daging dengan suhu tinggi di atas nyala api terbuka akan membentuk senyawa berbahaya yang dapat meningkatkan risiko kanker. 

Baca Juga: Awas! terlalu sering makan gorengan bisa memicu obesitas dan penyakit mematikan

Jadi benarkah masak dengan dibakar menjadi metode terbaik? 

Berikut adalah pendapat dari pakar nutrisi olahraga Georgie Fear, R.D., C.S.S.D., dan Kelly Jones, R.D, C.S.S.D., untuk mengetahui apakah memanggang benar-benar baik seperti yang Anda pikirkan selama ini. 

Selama ini daging yang dibakar, diklaim lebih rendah lemak dan kalori dibandingkan dengan daging yang dimasak dengan cara lain. Jadi, ini adalah pilihan memasak yang paling sehat. 

Bukti menunjukkan tidak demikian ketika daging dimasak pada suhu tinggi, lemak dari dalam daging akan dilepaskan. Lemak akan menetes melalui panggangan, sehingga kita tidak akan memakannya. 

“Hasilnya adalah daging sedikit lebih rendah lemak atau kalori dibandingkan dengan protein yang sama yang dimasak di wajan,” kata Jones. 

Tetapi sebenarnya, membakar daging tidak sesempurna itu. Ketika daging merah, unggas, atau makanan laut dibakar di atas api terbuka, bahan kimia seperti amina heterosiklik (HCA) dan hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH) akan terbentuk. 

“HCA berkembang ketika asam amino, gula alami, dan senyawa lain dalam daging bereaksi pada suhu tinggi dan arang, sementara PAH terbentuk ketika jus daging dan lemak yang menetes jatuh ke panggangan,” jelas Jones. 

“Asap yang mengepul diisi dengan PAH, dan kemudian melekat kembali ke permukaan daging. HCA dan PAH juga dianggap kemungkinan karsinogen untuk manusia, yang berarti itu berpotensi menyebabkan kanker,” lanjutnya.

Kedua bahan kimia tersebut mampu merusak DNA dalam sel-sel kita, yang dapat memicu pertumbuhan kanker, demikian menurut National Cancer Institute (NCI). 
Hingga saat ini memang belum ada penelitian pada manusia yang mengonfirmasi bahwa HCA dan PAH meningkatkan risiko kanker. Menurut NCI, beberapa studi populasi menunjukkan, bahwa orang yang makan daging lebih matang dan dibakar memiliki tingkat penyebab kanker yang lebih tinggi, tetapi penelitian lebih lanjut diperlukan. 

Dengan demikian, dibakar bukan satu-satunya pilihan memasak untuk menurunkan kandungan lemak dari daging. "Ini hanya salah satu dari banyak metode yang membiarkan lemak meleleh habis," kata Fear. 

Baca Juga: Ini aturan ideal minum air putih yang baik untuk kesehatan

"Anda bisa membakar daging di atas panggangan berlubang. Tak harus di atas api langsung" Dan bahkan, ketika membakar atau menggunakan metode memasak lain yang membantu mengeringkan kelebihan lemak, perbedaan nutrisi tidak akan terlalu besar. 

"Burger bakar memiliki sekitar 1 gram lebih sedikit lemak dan 10 kalori lebih sedikit daripada burger yang dimasak dalam wajan" kata Fear. 

Kesimpulannya, membakar daging tidak membuat lemak dan kalori daging jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan metode memasak lainnya. 

Belum lagi, kemungkinan pembentukan bahan kimia yang berpotensi menyebabkan kanker. "Saya tidak akan memilihnya untuk tujuan mengurangi lemak, mengingat memanggang menggunakan panggangan listrik bisa memberikan pengurangan lemak serupa, tanpa peningkatan senyawa karsinogenik," kata Fear. 

Lalu, apakah ini berarti kita harus menghindari konsumsi sate seumur hidup? Meskipun tidak ada pedoman resmi dalam hal konsumsi daging, unggas, atau makanan laut dan risiko kanker, sepertinya tak masalah untuk menikmati burger bakar, barbeque atau hidangan sate sesekali. 

"Saya tidak akan khawatir untuk makan daging bakar sebulan sekali. Tetapi saya akan berusaha menjaga konsumsi saya serendah mungkin, "kata Fear. 

Ketika akan membakar daging, ada baiknya melakukan enam langkah berikut untuk mengurangi pembentukan HCA dan PAH: 

Pertama, ” Rendam daging dalam bumbu sebelum dimasak. Tambhakan bumbu untuk dibalurkan pada daging, ini akan membentuk penghalang, sehingga lebih sedikit HCA dan PAH,” kata Jones.

 Kedua, Gunakan potongan yang lebih ramping. Kandungan lemak yang lebih rendah, berarti lebih sedikit lemak yang akan menetes ke api dan membentuk PAH, demikian catatan American Institute for Cancer Research (AICR). 

Ketiga, Sebelum membakar daging, panggang lebih dulu di dalam oven atau microwave. Karena, semakin lama daging dibakar di atas apai langsung, semakin banyak HCA dan PAH terbentuk. 

Keempat, Atau buat potongan daging lebih kecil. Sehingga, akan lebih cepat matang dan tidak banyak membentuk HCA atau PAH. 

Kelima, Bolak-balik daging sesering mungkin, sehingga mengurangi peluang untuk hangus – di mana ini adalah tanda bahwa HCA telah terbentuk. 

Keenam, Siapkan lebih banyak makanan nabati. Kurangi porsi daging dan isi piring dengan lebih banyak sayuran, buah-buahan, atau protein nabati. Makanan nabati tidak membentuk HCA atau PAH di atas panggangan. (Bestari Kumala Dewi)

Baca Juga: Telur rebus atau telur goreng yang baik untuk dikonsumsi?

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Makanan yang Dibakar Lebih Sehat dan Rendah Kalori, Benarkah?", 

Editor: Tri Sulistiowati


Terbaru