Produk dan Layanan

Layanan imunisasi 83,9% terganggu karena pandemi Covid-19

Senin, 08 Juni 2020 | 20:08 WIB   Reporter: Ratih Waseso
Layanan imunisasi 83,9% terganggu karena pandemi Covid-19

ILUSTRASI. Petugas medis dari Puskesmas Babakan dengan alat pelindung diri (APD) memberikan imunisasi kepada seorang balita di Posbindu Cempaka 2 Babakan, Tangerang Selatan, Banten, Selasa (12/5/2020). Pelayanan imuniasi tersebut untuk menjaga kesehatan anak walaupu

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Vensya Sitohang mengungkapkan, dari hasil survei pihaknya bersama UNICEF dan pemerhati imunisasi anak didapatkan fakta 83,9% pelayanan kesehatan terdampak akan adanya wabah virus corona (Covid-19).

Berdasar survei cepat di lapangan yang dilakukan pada April lalu tersebut maka Vensya menuturkan artinya pelayanan imunisasi pada anak tidak terlaksana.

"Ternyata 83,9% pelayanan kesehatan terdampak artinya pelayanan imunisasi tidak dilaksanakan. Nah kita tahu dampak apa kalau imunisasi anak tidak dilakukan, itu hampir di Provinsi, Kabupaten dan Kota," kata Vensya pada teleconference BNPB pada Senin (8/6).

Sedangkan cakupan imunisasi pada Januari hingga Februari, berdasar laporan belum terdampak. Tapi pada bulan April, Vensya menyebut sudah cukup signifikan mengalami penurunan.

Adapun, cakupan imunisasi dasar pada April 2020 menurun 4,7% dibanding April 2019 lalu. Penurunan pelayanan program imunisasi karena dampak Covid-19 terjadi di Puskesmas, Posyandu dan fasilitas kesehatan lainnya.

Baca Juga: Ini 5 tips yang perlu dilakukan sebelum imunisasi anak di tengah pandemi corona

Vensya kembali menyebutkan bahwa di luar dampak pandemi Covid-19 pada menurunnya layanan program imunisasi anak, terdapat hal yang lebih penting lagi. Ia menuturkan bahwa tidak melakukan imunisasi pada anak justru lebih berbahaya dari adanya Covid-19

Ketua Bidang Hubungan Masyarakat dan Kesejahteraan Anggota Pengurus Pusat IDAI Hartono Gunardi, bahkan menyebut hambatan program imunisasi lantaran pandemi Covid-19 menimbulkan potensi wabah ganda (double outbreak).

"Banyak orang tua takut bawa anaknya ke Puskesmas atau posyandu karena pandemi ini, nah ini bisa jadi double outbreak dan outbreak lain, mudah-mudahan tidak terjadi," kata Hartono di waktu yang sama.

Ia memberi penjelasan misalnya satu penderita campak sendiri dapat menularkan ke 18 orang, sedangkan satu penderita Covid-19 dapat menularkan 1,5 sampai 3,5 orang.

Oleh karenanya imunisasi kepada anak ditekankan tetap penting meski di tengah pandemi, dengan catatan protokol kesehatan tetap diutamakan. "Berbeda dengan Covid-19, Campak droplet bisa lebih dari 6 meter jadi jangan dilupakan ini campak," ujarnya.

Editor: Yudho Winarto


Terbaru