HOME

Kiat relawan medis di RS Darurat Wisma Atlet Kemayoran tetap sehat dan semangat

Rabu, 27 Januari 2021 | 23:39 WIB   Reporter: Sri Sayekti
Kiat relawan medis di RS Darurat Wisma Atlet Kemayoran tetap sehat dan semangat

ILUSTRASI. Nadhira Anindita Ralen, dokter jaga di Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta.

KONTAN.CO.ID - Sejak November 2020, Nadhira Anindita Ralena bertugas sebagai relawan medis di Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta. Sejak lulus April 2020 dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, mahasiswi yang lulus dengan nilai cum laude ini harus bertugas internship dan memilih Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet Kemayoran. “Ini menjadi momentum bagi kami yang baru lulus untuk langsung praktek di tengah situasi pandemi,’ujar gadis yang biasa dipanggil Dita ini.

Saat awal bertugas pada November 2020 jumlah pasien Covid-19 yang dirawat di Wisma Atlet berkisar 900 orang yang menempati tower 6 dan 7. Tetapi 2 minggu setelah memasuki tahun baru 2021, jumlah pasien Covid-19 di Wisma Atlet melonjak menjadi sekitar 5000 orang yang menempati tower 4,5,6 dan 7.

Nah, Anda yang saat ini masih beraktivitas di rumah, bersyukurlah dan tetap patuhi protokol kesehatan 5 M: memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan dengan sabun, menghindari kerumunan dan mengurangi mobilitas. Anda bisa bayangkan kesibukan Dita sebagai relawan medis saat bertugas sebagai dokter jaga.

Dita menuturkan 1 orang dokter jaga bertugas untuk mengawasi pasien minimal 3 lantai dan bisa bertambah menjadi 4-6 lantai tergantung situasi di lapangan. Jadwal tugas dibagi menjadi 3 shift, pertama pukul 06.00-14.00, kedua 14.00-22.00, ketiga 22.00-06.00. Jadi setiap tugas selama 8 jam memakai baju hazmat dan kebanyakan tidak makan, minum, bahkan tidak ke toilet. Pemakaian baju hazmat dilakukan di perbatasan zona yakni zona antara tower 2 dan 3 tempat tinggal tenaga medis dan tower 4,5,6,7 zona perawatan pasien Covid-19. “Kalau dihitung dengan mandi dan pakai hazmat total bertugas selama 10 jam.”imbuh Dita.

Saat genting bagi Dita adalah saat menangani pasien yang mengalami desaturasi, penurunan kadar oksigen. “Kadang yang bikin panik, sudah bisa naik oksigen, tetapi belum stabil dan turun lagi, tetapi kami juga ikut merasa senang kalau bisa langsung naik dan lepas oksigen,”jelas Dita.

Saat pasien desaturasi parah, memerlukan oksigen 15 liter per menit, dalam 1 shift jaga bangsal, dapat menghabiskan kira-kira 4 oksigen tabung untuk 1 pasien. Bangsal hanya menggunakan oksigen tabung, oksigen dinding hanya tersedia di ruang intensif. “Jadi harus bolak balik minta tolong perawat untuk ambil tabung oksigen,”ujar Dita.

Lonjakan pasien Covid-19 paska liburan tahun baru 2021 ada hal menarik dari pasien yang ditangani Dita. Saat itu ada pasien yang baru saja pulang dari liburan di Labuan Bajo bersama teman-teman kantor karena sudah mengantongi hasil swab test negatif. Alhasil menikmati liburan dengan euforia dan lupa, tidak berarti jika hasil swab test negatif akan negatif selamanya. Akhirnya liburan pun berakhir di rumah sakit.

Menurut Dita masa inkubasi virus SARS-COV-2 secara teori WHO adalah 5-6 hari - bisa sampai 14 hari. Pasien tanpa gejala yang terinfeksi virus di hari pertama dan langsung dilakukan PCR swab test di hari yang sama, mungkin saja masih negatif. Namun 5 hari kemudian timbul gejala dan saat didapatkan hasil swab test positif, sangat mungkin dan sering kasusnya. Inilah yang kemudian muncul kluster liburan.

Usai bertugas selama 8 jam, para tenaga medis mendapat jam istirahat selama 32 jam. “Kelihatannya panjang banget ya istirahatnya, tetapi prakteknya itu cepat, 12 jam untuk tidur, sisanya untuk me time, harus bisa bikin bahagia sendiri, sesuai hobi atau kesukaan masing-masing, supaya tidak stress,”jelas Dita. Beban kerja yang cukup tinggi menurut Dita benar-benar memerlukan istirahat cukup agar saat bertugas lagi kondisi badan tetap sehat.

Sarana dan fasilitas di Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet menurut Dita sangat memadai. Sarana hiburan pun tersedia dengan adanya kegiatan nobar  (nonton bareng) film di ruang terbuka, senam. “Ada juga fasilitas pusat kesehatan mental,”imbuh Dita. Ia sendiri memilih me time dengan menikmati tontonan KPop atau drama Korea. Selain itu, Dita juga memakai waktu istirahatnya untuk membuat penelitian terkait Covid-19.

Menjaga kesehatan badan, asupan bergizi sangat penting. “Menu makannya variatif, buah, sayuran, juga vitamin C dan vitamin D rutin kami konsumsi dan tidak boleh diet-diet, supaya tetap kuat,”ujar Dita.
Sebagai garda terdepan, Dita sudah menerima vaksin Covid-19 dan akan menerima vaksin booster atau vaksin kedua pada 3 Februari mendatang.

Nah, semoga perjuangan para tenaga medis tidak bertambah berat. Bantu mereka dengan cara selalu disiplin menjalankan protokol kesehatan dan jangan mengeluh bosan di rumah saja.

#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #jagajarakhindarikerumunan #cucitangan #cucitanganpakaisabun

 

 

Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
Terbaru