Kemenkes Minta Jajaran Nakes untuk Waspadai Penyakit Monkeypox

Jumat, 27 Mei 2022 | 18:57 WIB   Reporter: Lailatul Anisah
Kemenkes Minta Jajaran Nakes untuk Waspadai Penyakit Monkeypox

ILUSTRASI. Tabung reaksi berlabel 'Positif virus cacar monyet' terlihat dalam ilustrasi yang diambil Minggu (22/5/2022). REUTERS/Dado Ruvic/Illustration


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Kesehatan RI meminta semua jajaran tenaga kesehatan untuk mewaspadai penyakit cacar monyet (monkeypox). Ada sejumlah definisi kasus untuk membedakan kelompok pasien yang terinfeksi monkeypox.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dr. dr. Maxi Rein Rondonuwu, DHSM, MARS mengatakan, hingga saat ini belum ada laporan kasus monkeypox di Indonesia.

“Berdasarkan laporan WHO per tanggal 21 Mei 2022, laporan adanya kasus monkeypox baru muncul di beberapa negara non endemis antara lain Australia, Belgia, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Belanda, Portugal, Spanyol, Swedia, Inggris dan Amerika,” katanya di Jakarta pada Jumat (27/5).

Sebagian besar kasus dilaporkan dari pasien yang tidak memiliki riwayat perjalanan ke negara-negara endemis dan sebagian kasus berhubungan dengan adanya keikutsertaan pada pertemuan besar yang dapat meningkatkan risiko kontak baik melalui lesi, cairan tubuh, droplet dan benda yang terkontaminasi.

Beberapa definisi kasus yang telah ditetapkan Kemenkes antara lain suspek, probable, konfirmasi, discarded, dan kontak erat.

Baca Juga: Cacar Monyet Sudah Masuk ke Negara Tetangga Indonesia, Waspada Gejalanya

Suspect merupakan orang dengan ruam akut (papula, vesikel dan/atau pustula) yang tidak bisa dijelaskan pada negara non endemis.

“Orang dalam kategori suspect memiliki satu atau lebih gejala seperti sakit kepala, demam akut di atas 38,5 derajat Celsius, Limfadenopati (pembesaran kelenjar getah bening), nyeri otot/Myalgia, Sakit punggung, dan asthenia (kelemahan tubuh),” katanya.

Sementara probable merupakan seseorang yang memenuhi kriteria suspect dengan kriteria antara lain :

  • Memiliki hubungan epidemiologis (paparan tatap muka, termasuk petugas kesehatan tanpa APD); kontak fisik langsung dengan kulit atau lesi kulit, termasuk kontak seksual; atau kontak dengan benda yang terkontaminasi seperti pakaian, tempat tidur atau peralatan pada kasus probable atau konfirmasi pada 21 hari sebelum timbulnya gejala.
  • Riwayat perjalanan ke negara endemis Monkeypox pada 21 hari sebelum timbulnya gejala.
  • Hasil uji serologis orthopoxvirus menunjukkan positif namun tidak mempunyai riwayat vaksinasi smallpox ataupun infeksi orthopoxvirus.
  • Dirawat di rumah sakit karena penyakitnya.

Selanjutnya, konfirmasi. Dijelaskannya, kasus suspect dan probable yang dinyatakan positif terinfeksi virus Monkeypox yang dibuktikan dengan pemeriksaan laboratorium real-time polymerase chain reaction (PCR) dan/atau sekuensing.

Baca Juga: Menyebar ke Banyak Negara, Ini Penjelasan Kemenkes Soal Cacar Monyet

“Sementara, discarded merupakan kasus suspect atau probable dengan hasil negatif PCR dan/atau sekuensing Monkeypox,” tambanya.

Terakhir, kontak erat. Orang yang memiliki riwayat kontak dengan kasus probabel atau kasus terkonfirmasi monkeypox (sejak mulai gejala sampai dengan keropeng mengelupas/hilang) dan memenuhi salah satu kriteria berikut:

  • Kontak tatap muka (termasuk tenaga kesehatan tanpa menggunakan APD yang sesuai).
  • Kontak fisik langsung termasuk kontak seksual.
  • Kontak dengan barang yang terkontaminasi seperti pakaian, tempat tidur.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Yudho Winarto

Tag
Terbaru