Kasus Terus Bertambah, Ini Bahaya Covid-19 Omicron yang Harus Diwaspadai

Jumat, 21 Januari 2022 | 07:59 WIB Sumber: Kementerian Kesehatan RI,Kompas.com
Kasus Terus Bertambah, Ini Bahaya Covid-19 Omicron yang Harus Diwaspadai

ILUSTRASI. Kasus Terus Bertambah, Ini Bahaya Covid-19 Omicron yang Harus Diwaspadai


KONTAN.CO.ID - Jakarta. Kasus Covid-19 Omicron di Indonesia semakin tinggi. Omicron juga menyebabkan kasus Covid-19 di Indonesia kembali melonjak. Meski Covid-19 Omicron hanya menimbulkan gejala ringan, tapi virus corona varian baru tersebut harus tetap diwaspadai karena berbahaya.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat hingga Rabu (19/1/2022), total ada 882 kasus Covid-19 akibat varian Omicron di Indonesia. Jumlah kasus Covid-19 di Indonesia tersebut bertambah dibandingkan data sebelumnya pada Senin (17/1/2022) ada 840 kasus.

Dari 882 pasien Covid-19 Omicron tersebut, 649 kasus berasal dari pelaku perjalanan dari luar negeri dan 174 merupakan transmisi lokal. Lalu, sebanyak 381 orang dari total 882 pasien Covid-19 Omicron di Indonesia sudah dinyatakan sembuh.

Kemkes mencatat tidak ada perbedaan karakteristik gejala Covid-19 Omicron antara pasien perjalanan luar negeri dan pasien transmisi lokal. Sebagian besar gejala pasien Covid-19 Omicron di Indonesia adalah ringan dan tanpa gejala.

Gejala Covid-19 Omicron di Indonesia paling banyak yang dialami pasien adalah batuk, pilek dan demam. Gejala Covid-19 Omicron ini mirip sakit flu biasa.

Meski gejala Covid-19 Omicron ringan, masyarakat dihimbau tetap waspada. Pasalnya, Covid-19 Omicron tetap mematikan.

Baca Juga: Luhut Sebut Perang Melawan Covid-19 Omicron di Jabodetabek, Gunakan Masker Ini

Dilansir dari Kompas.com, 50.000-300.000 penduduk Amerika Serikat (AS) terancam nyawanya akibat varian Covid-19 Omicron ini, sebelum gelombang pendemi surut pada pertengahan Maret mendatang.

Menurut laporan Associated Press, perkiraan tersebut merupakan proyeksi para pemodel, yang mengingatkan bahwa Covid-19 Omicron memiliki daya tular lebih tinggi di balik gejala ringannya. Rata-rata kasus kematian akibat Covid-19 di AS masih berjarak sekitar tujuh hari dari satu kematian ke kematian lainnya. Sama seperti pada pertengahan November lalu.

Per Senin (17/1/2022) lalu, kasus kematian akibat varian Omicron di AS mencapai hampir 1.700, meski jumlah ini masih di bawah puncaknya, 3.300 kematian pada Januari 2021 silam.

Nah, kekhawatiran jumlah kasus Covid-19 Omicron dalam beberapa minggu mendatang sebenarnya dapat digambarkan secara sederhana. Jika infeksi baru telah mencapai puncaknya di beberapa area di AS, artinya jumlah rata-rata kasus berjumlah sekitar 800.000 per hari secara nasional. Dengan demikian, capaian ini tiga kali lipat lebih banyak dari gelombang kasus pada tahun lalu.

Tentu hal ini akan menyebabkan rumah sakit penuh dan potensi kematian pasien tak dapat dihindari. Apalagi, saat ini saja sudah ada sekitar 150.000 pasien Covid-19 di rumah sakit di AS. Lalu, jika proyeksi 50.000-300.000 kematian itu menjadi kenyataan, kematian akibat Covid-19 di AS dapat melampaui satu juta jiwa pada awal musim semi mendatang.

"Omicron tetap akan membuat banyak orang meninggal karena sangat menular," kata ahli epidemiologi Jason Salemi dari University of South Florida.

Sementara itu, Katriona Shea dari Pennsylvania State University, salah satu pemimpin pemodel, memperkirakan, gelombang kematian akan mencapai puncaknya pada akhir Januari atau awal Februari. Bahkan menurut dia, gelombang kali ini akan melampaui puncak Delta tahun lalu. “Ini digerakkan oleh Omicron,” kata Shea, yang kembali menggarisbawahii bahaya yang ditimbulkan oleh Covid-19 Omicron tersebut.

Cara mengobati pasien Covid-19 Omicron

 

Kemkes mengungkapkan masyarakat harus bersiap menghadapi gelombang Covid-19 Omicron di Indonesia. Pasalnya karakteristik Covid-19 Omicron yang memiliki tingkat penyebaran yang sangat cepat.

 

''Jika dilihat dari perkembangannya, konfirmasi omicron cenderung mengalami peningkatan, dari pemeriksaan SGTF, kasus probable omicron pada PPLN cenderung meningkat, hasil WGS juga menunjukkan proporsi varian Omicron yang mulai mendominasi,'' ungkap Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kemenkes Siti Nadia Tarmidzi.

Namun, dilihat dari tingkat keparahan, mayoritas kasus Covid-19 Omicron di Indonesia tidak menunjukkan gejala atau memiliki gejala ringan. Sehingga tidak membutuhkan perawatan yang serius di rumah sakit. Untuk itu, Kemenkes akan menggencarkan telemedicine yang didedikasikan bagi pasien yang melakukan isolasi di rumah.

''Kami bekerjasama dengan 17 platform telemedicine untuk memberikan jasa konsultasi dokter dan jasa pengiriman obat secara gratis bagi pasien COVID-19 yang sedang menjalani isolasi di rumah, agar penanganan pasien dapat dilakukan seluas dan seefektif mungkin,'' ucap Nadia.

Platform telemedicine untuk membantu menyembuhkan pasien Covid-19 Omicron di Indonesia adalah  Alodokter, Getwell, Good Doctor, Grabhealth, Halodoc, KlikDokter, KlinikGo, Link Sehat, Milvik Dokter, ProSehat, SehatQ, YesDok, Aido Health, Homecare24, Lekasehat, mDoc, Trustmedis, dan Vascular.

Selain itu dari sisi teurapetik, Kemenkes juga akan menyertakan penggunaan obat Monulpiravir dan Plaxlovid untuk terapi pasien COVID-19 dengan gejala ringan.

Itulah gejala dan bahaya Covid-19 Omicron. Mari patuhi protokol kesehatan dan segera mendapatkan vaksin Covid-19 untuk mencegah virus corona varian Omicron maupun lainnya.

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Adi Wikanto

Terbaru