kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45934,85   7,21   0.78%
  • EMAS1.320.000 -0,38%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Kasus Monkeypox di Indonesia Bertambah, Ini Beda Cacar Monyet dan Cacar Air


Selasa, 24 Oktober 2023 / 06:56 WIB
Kasus Monkeypox di Indonesia Bertambah, Ini Beda Cacar Monyet dan Cacar Air
ILUSTRASI. Kasus Monkeypox di Indonesia Bertambah, Ini Beda Cacar Monyet dan Cacar Air


Sumber: Kementerian Kesehatan RI,Kompas.com | Editor: Adi Wikanto

Beda Cacar Monyet dan Cacar Air- Jakarta. Kasus cacar monyet atau Monkeypox di Indonesia bertambah. Kenali ciri-ciri cacar monyet di Indonesia. Cek juga perbedaan cacar monyet dan cacar air.

Kementerian Kesehatan (Kemkes) melaporkan kasus konfirmasi cacar monyet di Indonesia per 22 Oktober 2023 bertambah menjadi 7 kasus sejak pertama kali dilaporkan pada 13 Oktober 2023, atau 8 kasus sejak pertama kali terkonfirmasi di pertengahan 2022.

“Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium, hingga kini kita dapatkan 7 kasus konfirmasi Monkeypox di Indonesia di tahun ini. Seluruh kasus konfirmasi ditemukan di wilayah DKI Jakarta,” kata Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Maxi Rein Rondonuwu (23/10).

Semua kasus cacar monyet terkonfirmasi itu berasal dari Jakarta. Rinciannya 1 kasus dari Jatinegara, Mampang 1 kasus, Kebayoran Lama 1 kasus, Setiabudi 2 kasus, Grogol Petamburan 1 kasus, dan Kembangan 1 kasus.

Data yang sama menunjukkan bahwa, seluruh pasien terkonfirmasi cacar monyet adalah laki-laki usia produktif. Mayoritas atau sekitar 71% adalah laki-laki berusia 25-29 tahun, sementara 29% diantaranya adalah laki-laki berusia 30-39 tahun. Dari hasil penelusuran diketahui 6 pasien cacar monyet juga merupakan Orang Dengan HIV (ODHIV), dan memiliki orientasi Biseksual.

Baca Juga: Kasus Cacar Monyet Bertambah di Indonesia, Ini Sebabnya

Maxi mengungkapkan saat ini seluruh pasien cacar monyet sedang menjalani perawatan intensif di ruang isolasi di sejumlah rumah sakit di Jakarta. Perawatan akan dilakukan hingga luka mengering dengan sempurna.

“Untuk kondisinya, semua baik dan stabil. Kita pantau secara ketat dan terus menerus. Saat ini kita juga sedang memonitor pihak-pihak yang melakukan kontak erat dengan pasien,” terang Maxi.

Maxi juga membeberkan bahwa pasien cacar monyet memiliki faktor prilaku seks beresiko. Berikut sejumlah ciri-ciri cacar monyet di Indonesia.

  • Muncul lesi dan ruam kemerahan
  • Terjadi demam
  • Pembesaran kelenjar getah bening
  • Nyeri tenggorokan
  • Myalgia
  • Ruam
  • Sulit menelan.

Penularan cacar monyet terjadi dari manusia ke manusia karena kontak langsung dengan cairan tubuh atau lesi kulit orang yang terinfeksi.

Menyusul penambahan kasus ini, Maxi mengatakan Kementerian Kesehatan bergegas melakukan upaya penanggulangan. Setidaknya ada 3 upaya yang dilakukan diantaranya upaya surveilans, terapeutik dan vaksinasi.

Upaya surveilans dilakukan dengan penyelidikan epidemiologi dan penyiapan laboratorium pemeriksa. Terapeutik dengan memberikan terapi simtomatis, pemenuhan logistik antivirus khusus cacar monyet serta pemantauan kondisi pasien.

Selanjutnya, Kementerian Kesehatan juga akan melakukan vaksinasi cacar monyet terutama pada populasi yang paling beresiko. Kriteria penerima vaksin cacar monyet adalah laki-laki yang dalam 2 minggu terakhir melakukan hubungan seksual berisiko dengan sesama jenis dengan atau tanpa status ODHIV.

Vaksinasi cacar monyet rencananya akan dilaksanakan mulai tanggal 24 Oktober 2023 dengan jumlah sasaran sekitar 447 orang. Vaksinasi akan diselenggarakan di Fasilitas pelayanan kesehatan yang ditunjuk oleh Dinas Kesehatan DKI Jakarta yakni klinik Carlo serta Puskesmas yang berada di wilayah Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, Jakarta Timur dan Jakarta Barat.

Vaksin ini diberikan dalam 2 dosis dengan interval 4 minggu. Adapun jenis vaksin cacar monyet yang akan digunakan adalah vaksin impor yang diproduksi oleh Bavarian Nordic, Denmark dengan merk dagang JYNNEOS®️ kemasan single-dose. Vaksin tersebut telah memiliki Sertifikat Pelulusan Vaksin (Certificate of Release) dari Badan POM terbit 17 Maret 2023.

Beda cacar monyet dan cacar air

Diberitakan Kompas.com, dokter spesialis kulit dan kelamin dr. Ni Luh Putu Pitawati, Sp.KK menyebutkan, menjelaskan beda cacar monyet, cacar air, dan campak yang khas dan menandai penyakit dengan gejala ruam ini.

Menurut Putu, beda cacar monyet, cacar air, dan campak tersebut bisa dilihat dari gejala demam dan ruam, jenis ruam, fase munculnya ruam, perkembangan ruam, penyebaran ruam, dan gejala penyerta khas penyakit.

Untuk lebih jelasnya, simak penjabarannya beda cacar monyet, cacar air, dan campak berikut ini.

  • Gejala demam

Putu menjelaskan, cacar monyet ditandai gejala demam dengan suhu lebih dari 38 derajat Celsius serta ruam setelah satu sampai tiga hari. Pada cacar air, suhu demam bisa mencapai 39 derajat Celsius dengan ruam setelah nol sampai dua hari. Sedangkan pada campak, demam tinggi hingga 40,5 derajat Celsius dengan ruam muncul setelah dua sampai empat hari.

  • Jenis ruam

Putu mengatakan, ruam cacar monyet bisa berupa makula (lesi rata dengan warna berbeda dan ukuran hingga 0,5 cm), papula (lesi padat dan timbul dengan ukuran hingga 0,5 cm), vesikel (lesi bintik berisi cairan), pustula (lesi mirip lepuh berisi nanah), dan krusta (keropeng).

Sedangkan pada cacar air, ruam hanya berbentuk makula, papula, dan vesikel pada berbagai fase. Sementara itu, jenis ruam campak biasanya berupa ruam non-vesikel atau bukan bintik-bintik merah berair di berbagai fase.

  • Perkembangan ruam

Putu juga mengemukakan, beda cacar monyet, cacar air, dan campak bisa dilihat dari perkembangan ruam. Pada penderita cacar monyet, perkembangan ruam terjadi secara lambat (3-4 minggu). Sedangkan pada penderita cacar air dan campak, perkembangan ruam terhitung cepat dan dapat terjadi dalam hitungan hari.

  • Persebaran ruam di beberapa anggota tubuh

Beda cacar monyet, cacar air, dan campak juga terlihat dari persebaran ruam di beberapa anggota t ubuh. Pada cacar monyet, persebaran ruam berawal dari kepala, lebih padat di wajah dan anggota badan, serta muncul pula pada telapak tangan dan kaki.

Sedangkan pada cacar air, persebaran ruam dimulai dari kepala, padat di tubuh, dan tidak muncul pada telapak tangan dan kaki. Pada penyakit campak, persebaran ruam dimulai di kepala, menyebar ke bawah, dan dapat mencapai tangan dan kaki.

  • Gejala khas penyakit

Beda cacar monyet, cacar air, dan campak juga tampak dari gejala khas. Cacar monyet disertai gejala khas kelenjar getah bening membengkak.

Sedangkan pada cacar air, munculnya ruam disertai gejala gatal-gatal di tempat kemunculan ruam. Untuk campak, gejala khasnya selain ruam adalah muncul koplik spots atau bintik putih yang muncul pada area mulut.

Itulah perkembangan baru kasus cacar monyet di Indonesia. Waspadai ciri-ciri cacar monyet di Indonesia dan bedanya dengan cacar air dan campak.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Trik & Tips yang Aman Menggunakan Pihak Ketiga (Agency, Debt Collector & Advokat) dalam Penagihan Kredit / Piutang Macet Managing Customer Expectations and Dealing with Complaints

[X]
×