Kasus Covid-19 Baru Capai 6.000-an, Banyak yang Negatif Meski Ada Gejala, Kok Bisa?

Kamis, 28 Juli 2022 | 06:18 WIB   Reporter: Adi Wikanto
Kasus Covid-19 Baru Capai 6.000-an, Banyak yang Negatif Meski Ada Gejala, Kok Bisa?

ILUSTRASI. Kasus Covid-19 Baru Capai 6.000-an, Banyak yang Negatif Meski Ada Gejala, Kok Bisa?


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kasus baru positif Covid-19 atau corona di Indonesia semakin banyak hingga menembus level 6.000-an pada Rabu 27 Juli 2022. Di tengah lonjakan kasus positif Covid-19, banyak warga yang merasakan gejala terinfeksi virus corona tapi setelah di tes hasilnya negatif.

Satgas Penanganan Covid-19 mencatat hingga Rabu (27/7) ada tambahan 6.438 kasus baru corona. Sehari sebelumnya, yakni pada Selasa 26 Juli 2022, penambahan kasus Covid-19 juga tinggi, sebanyak 6.483.

Dengan penambahan tersebut, total kasus Covid-19 di Indonesia sejak pandemi corona terjadi sebanyak 6.185.311.

Sementara itu, jumlah yang sembuh dari kasus positif Covid-19 di Indonesia hingga 27 Juli 2022 bertambah 3.825 orang sehingga menjadi sebanyak 5.982.347 orang.

Sedangkan jumlah orang yang meninggal akibat kasus positif Covid-19 di Indonesia hingga 27 Juli 2022 bertambah 11 orang menjadi sebanyak 156.940 orang.

Jumlah kasus aktif Covid-19 di Indonesia hingga 27 Juli 2022 mencapai 46.024 kasus, bertambah 2.602 dari sehari sebelumnya.

Baca Juga: Mikronesia, Negara Terakhir di Dunia yang Alami Wabah Covid-19

Meskipun kasus Covid-19 meningkat, tapi banyak orang melaporkan tes antigen menunjukkan hasil negatif. Walaupun mereka mengalami gejala Covid-19 seperti demam, kelelahan, nyeri otot, kehilangan indera perasa dan atau penciuman.

Kenapa tes antigen menunjukkan hasil negatif meskipun ada gejala Covid-19?

Mengutip Kompas.com, Esther Babady, kepala layanan mikrobiologi klinis di Memorial Sloan Kettering Cancer Center di New York mengatakan, virus corona Omicron subvarian BA.5 dan BA.4 memerlukan waktu sedikit lebih lama untuk menunjukkan hasil positif melalui tes antigen.

Omicron subvarian BA.4 dan BA.5 adalah penyebab lonjakan kasus positif Covid-19 di dunia pada Juli 2022 ini. "Ketika mutasi terjadi, entah bagaimana itu mengubah struktur protein yang berbeda ini, yang dapat mengakibatkan penurunan deteksi oleh pengujian antigen," kata Babady.

"Bisa juga pada infeksi BA4 dan BA5, kita tidak menghasilkan protein SARS-CoV-2 yang memadai."

Ada dugaan lain mengapa strain BA4 dan B5 sulit dideteksi, yakni merek tes antigen tertentu yang digunakan, catat Babady. "Kesulitan dalam membuat satu hasil untuk semua tes antigen cepat, ada begitu banyak merek yang sudah ada di pasaran dan semuanya tidak sama," imbuhnya.

Namun sampai sejauh ini para ahli belum menyimpulkan tes antigen tidak dapat mendeteksi subvarian BA5, dan klaim tersebut terlalu dini untuk dibuat. Begitu penjelasan Mohamed Z. Satti, spesialis penyakit menular dan anggota fakultas di division of public health, Michigan State University.

Satti meyakini, setiap individu harus menggunakan tes antigen di rumah jika mereka mengalami gejala atau sudah terpapar seseorang dengan Covid-19. "Sampai sekarang dari semua data yang saya lihat, pengujian di rumah masih berfungsi dan lumayan sensitif untuk diandalkan," tutur Satti.

Studi terbaru di medRxiv menunjukkan, pada tahap pra-cetak, tidak ada perbedaan signifikan antara akurasi tes antigen di rumah dalam mendeteksi varian omicron dibandingkan varian delta. Berdasarkan temuan tersebut, Satti mengatakan kemungkinan prevalensi hasil negatif disebabkan oleh penerapan tes antigen di rumah yang tidak akurat.

Ia berpendapat, tenaga medis lebih terampil dalam melakukan tes antigen dibandingkan kebanyakan orang awam. Hasil negatif dari tes antigen di rumah bisa jadi disebabkan oleh penanganan tes yang tidak tepat, katanya.

Tindakan yang bisa dilakukan

Selain tes antigen, Babady menganjurkan untuk melakukan tes PCR karena jauh lebih sensitif ketimbang antigen. "Jika individu memiliki kecurigaan tinggi menderita BA5 dan tes antigen mereka negatif, tes PCR akan benar-benar berguna," ungkap Babady.

Sementara itu Kevin Dieckhaus, kepala divisi penyakit menular di UConn Health menjelaskan, ada baiknya melakukan beberapa kali tes antigen di rumah selama beberapa hari jika kita sulit mendapatkan akses untuk tes PCR.

Jika gejala Covid-19 masih terasa, Dieckhaus menganjurkan untuk tes antigen tiga kali selama tiga hari, dengan rentang waktu 24 jam di antara setiap tes. "Biasanya kita harus menjalani dua tes selama 24 jam yang hasilnya negatif sebelum kita benar-benar memercayai hasil tes," terang Dieckhaus.

"Saya mendengar beberapa diskusi bahwa mungkin diperlukan lebih banyak pengujian dalam jangka waktu yang lebih lama sebelum kita memercayai hasilnya."

Kemungkinan lain, gejala yang sebenarnya kita rasakan menunjukkan tubuh terserang flu biasa atau alergi. Apa pun hasil tes antigen, jika kita mengalami gejala yang identik dengan Covid-19, Babady menyarankan kita agar mengisolasi diri dan memakai masker di dalam ruangan.

Ia mencatat, gejala ringan bisa berkembang menjadi gejala parah bagi orang lain, terutama jika orang tersebut lebih berisiko terinfeksi Covid-19 daripada kita. "Kita masih berada di masa di mana penjelasan yang paling mungkin untuk infeksi pernapasan adalah SARS-CoV-2," kata Babady.

"Meskipun itu bukan Covid-19, kita jangan menularkan virus lain ke orang lain."

Jadi, tetap gunakan masker dan lakukan isolasi diri jika mengalami gejala Covid-19. Semoga kasus Covid-19 kembali terkendali.

 

#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #jagajarakhindarikerumunan #cucitangan #cucitanganpakaisabun

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Adi Wikanto

Terbaru