Kasus 1 Hepatitis Akut Misterius Terjadi di Banten, Ini Ciri-Ciri yang Diwaspadai

Rabu, 25 Mei 2022 | 05:21 WIB Sumber: Kementerian Kesehatan RI,Kompas.com
Kasus 1 Hepatitis Akut Misterius Terjadi di Banten, Ini Ciri-Ciri yang Diwaspadai

ILUSTRASI. Kasus 1 Hepatitis Akut Misterius Terjadi di Banten, Ini Ciri-Ciri yang Diwaspadai


KONTAN.CO.ID - Jakarta. Kasus hepatitis akut misterius di Indonesia kembali bertambah. Terbaru, kasus hepatitis akut misterius terjadi di Banten. Kenali ciri-ciri hepatitis akut misterius agar bisa mendeteksi lebih dini.

Dengan penambahan ini, kini ada 16 kasus hepatitis akut misterius di Indonesia. Umumnya, kasus hepatitis akut misterius ini menyerang anak-anak di bawah usia 5.

Dilansir dari Kompas.com, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten dr Ati Pramudji Hastuti mengatakan, pasien hepatitis akut misterius pertama di Banten saat ini dirawat di Rumah Sakit Mandaya, Kota Tangerang. "Pasien usia 3 tahun beralamat domisili di DKI, ditemukan oleh RS Mandaya Kota Tangerang dengan diagnosa suspek/tersangka (diduga) hepatitis akut," kata Ati kepada wartawan yang disampaikan melalui pesan di grup Whatsapp, Selasa (24/5/2022).

Dikatakan Ati, Dinkes Provinsi Banten bersama dengan Dinkes DKI Jakarta dan Dinkes Kota Tangerang sudah membahas kasus pertama hepatitis akut misterius yang terjadi di wilayahnya. "Pembahasan kasus akan diteruskan esok hari," ujar Ati.

Disampaikan Ati, saat ini kondisi pasien hepatitis akut misterius menunjukkan gejala ringan dan rencana dalam dua hari ke depan akan dilakukan rawat jalan. Untuk pemeriksaan lanjutan, kata Ati akan dilakukan pemeriksaan hepatitis E dan pemeriksaan penunjang lainnya di Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) RI. "Rencananya kasus ini masih akan dibahas besok bersama beberapa tim," tandasnya.

Baca Juga: Waspada Hepatitis Akut, Ini 13 Gejala yang Sering Dikeluhkan Pasien

Ciri-ciri hepatitis akut misterius

Sejauh ini, ada sejumlah ciri-ciri hepatitis akut misterius yang perlu diwaspadai, yakni:

  • Gejala kuning
  • Sakit perut
  • Muntah-muntah dan diare mendadak
  • Buang air kecil berwarna teh tua
  • Buang air besar berwarna pucat
  • Kejang
  • Penurunan kesadaran

Jika anak-anak mengalami tanda di atas, segera periksakan anak ke fasilitas layanan kesehatan terdekat.

Juru Bicara Kementerian Kesehatan RI dr. Mohammad Syahril, Sp.P, MPH menjelaskan sejumlah definisi kasus yang digunakan pada penyakit hepatitis, sesuai dengan istilah yang digunakan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Menurutnya definisi kasus hepatitis tidak jauh berbeda dengan kasus COVID-19 yang saat itu menggunakan suspek, OTG sampai konfirmasi kasus. ''Sama dengan dulu kasus COVID-19, ada yang suspek, ada yang OTG, dan lain-lain sampai konfirmasi. Nah pada kasus hepatitis pun seperti itu,'' katanya dikutip dari situs resmi Kementerian Kesehatan.

Definisi kasus pertama adalah Confirmed. Saat ini belum ada yang disebut dengan konfirmasi positif oleh WHO karena sedang dalam penelitian.

Kedua Probable, yaitu hepatitis akut (virus non hepatitis A-E), yakni pada saat pemeriksaan laboratorium tidak ada hepatitis A sampai E, SGOT atau SGPT di atas 500 IU/L (internasional unit per liter), dan berusia di bawah 16 tahun.

''Untuk kasus ini, pasien tidak terdeteksi hepatitis maka dia salah satu dugaan hepatitis yang belum diketahui penyebabnya, namun hasil laboratorium SGOT atau SGPT di atas 500 IU/L,'' tutur dr. Syahril.

Ketiga, Epi-Linked, yaitu hepatitis akut (virus non hepatitis A-E), terjadi di segala usia, dan kontak erat dengan kasus probable.

Keempat, Pending Classification, artinya sedang menunggu hasil pemeriksaan Lab untuk hepatitis A sampai E, tetapi pasien ini sudah tinggi SGOT maupun SGPT nya yakni di atas 500 IU/L, dengan usia di bawah 16 tahun.

Untuk kasus yang tidak tergolong ke dalam semua definisi kasus tersebut, lanjut Syahril, itu didefinisikan sebagai discarded. ''Discarded itu tambah dari kita yaitu hepatitis akut (virus hepatitis A E) yang terdeteksi, atau etiologi lain yang terdeteksi.''

 

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Adi Wikanto

Terbaru