​Inilah alasan harus tetap pakai masker meski telah divaksin Covid-19

Rabu, 20 Januari 2021 | 15:18 WIB   Penulis: Virdita Ratriani
​Inilah alasan harus tetap pakai masker meski telah divaksin Covid-19

ILUSTRASI. Selebriti Raffi Ahmad menerima vaksinasi Covid-19 di Istana Merdeka, Jakarta (13/1/2021).

KONTAN.CO.ID - Akhir-akhir ini selebriti Raffi Ahmad yang tak menerapkan protokol kesehatan.  Raffi terpantau tak mengenakan masker dan menjaga jarak saat sedang berkumpul dengan sejumlah teman. 

Padahal Raffi dipilih oleh Presiden Joko Widodo untuk mendapatkan vaksinasi virus corona (Covid-19) di Istana Merdeka.

Vaksinasi memang dianggap menjadi alah satu upaya dalam menangani pandemi Covid-19. Kekebalan yang didapat dari vaksin diharap dapat mencegah penularan Covid-19 semakin meluas.

Meski begitu penerapan protokol kesehatan seperti mencuci tangan, menggunakan masker, dan menjaga jarak juga tetap harus dilakukan. Lantas, kenapa harus memakai masker meski telah divaksin virus corona?

Baca Juga: Penjualan semen domestik terkontraksi 10,4% tahun lalu, simak proyeksinya tahun ini

Alasan harus memakai masker meski telah divaksin Covid-19

Raffi Ahmad vaksin

Dirangkum dari laman New York Times, terdapat kemungkinan bahwa beberapa orang yang divaksinasi Covid-19 terinfeksi tanpa menunjukkan gejala, dan kemudian dapat menularkan virus secara diam-diam. 

Terutama jika mereka melakukan kontak dekat dengan orang lain saat berhenti memakai masker. Hal ini membuat orang yang sudah divaksin tetap dapat menjadi pembawa virus corona dan menyebarkannya di lingkungan mereka. 

Ahli imunologi di Universitas Stanford, Michal Tal mengatakan, sangat penting bagi mereka yang divaksin untuk mengetahui apakah mereka harus tetap memakai masker, karena mereka masih bisa menularkan virus corona. 

Pada sebagian besar infeksi saluran pernapasan, termasuk Covid-19, hidung adalah pintu masuk utama virus. 

Baca Juga: Hadiah perpisahan Trump untuk Biden: Saham bullish, utang bengkak, dolar melemah

Virus dengan cepat berkembang biak hidung, mengguncang sistem kekebalan untuk menghasilkan sejenis antibodi yang khusus untuk mukosa, jaringan lembab yang melapisi hidung, mulut, paru-paru, dan perut. 

Jika orang yang sama terpapar virus untuk kedua kalinya, antibodi tersebut, serta sel kekebalan yang mengingat virus dengan cepat mematikan virus di hidung sebelum mendapat kesempatan untuk bertahan di tempat lain di tubuh.

Vaksin virus corona, sebaliknya, disuntikkan jauh ke dalam otot dan merangsang sistem kekebalan untuk menghasilkan antibodi. 

Beberapa dari antibodi tersebut akan bersirkulasi di dalam darah ke mukosa hidung dan bertahan di sana. 

Baca Juga: Saat pandemi corona alami demam dan batuk, kapan harus ke dokter?

Editor: Virdita Ratriani


Terbaru