HOME

Indonesia diramal masuk fase berbahaya Juli-September, kapan pandemi berakhir?

Sabtu, 11 Juli 2020 | 05:19 WIB Sumber: Kompas.com
Indonesia diramal masuk fase berbahaya Juli-September, kapan pandemi berakhir?

ILUSTRASI. Penyebaran virus corona di Indonesia disebut-sebut memasuki fase berbahaya. ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/foc.

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penyebaran pandemi virus corona di Indonesia masih terus bertambah. Kamis (9/7/2020), jumlah kasus infeksi bahkan memecahkan rekor harian yaitu 2.657 kasus. WHO memperingatkan bahwa pandemi ini masih jauh dari "akhir". Oleh karena itu, mereka mengimbau orang-orang untuk selalu waspada dan menjaga protokol kesehatan.

Lantas kapan pandemi akan berakhir?

Epidemiolog dari Universitas Griffith, Dicky Budiman mengaku tidak bisa memprediksi kapan tepatnya pandemi akan berakhir. Namun Dicky memberikan tanda-tanda kapan pandemi akan mereda. "Pandemi di mana pun dan kapan pun hanya akan selesai atau berakhir jika terpenuhi salah satu dari tiga pilihan (tanda)," ujarnya pada Kompas.com, Jumat (10/7/2020).

Baca Juga: Menuju produksi, Moderna siap gabung dengan 3 vaksin corona lain di uji tahap akhir

Pertama, ditemukannya obat definitif yang efektif untuk menyembuhkan penyakit Covid-19 atau setidaknya mencegah terjadinya infeksi (profilaksis atau PreP). Kedua, ditemukannya vaksin yang dapat memberikan kekebalan efektif terhadap serangan virus SARS-CoV-2.

"Lalu ketiga yakni terjadinya kekebalan alamiah yang timbul setelah sebagian besar manusia terinfeksi Covid-19," katanya lagi.

Penemuan obat Covid-19

Dicky optimistis, akhir tahun ini atau awal tahun depan, obat Covid-19 akan ditemukan. Sementara itu untuk vaksin paling cepat diperkirakan pertengahan atau akhir tahun depan. Namun, dirinya memperkirakan paling cepat vaksin ditemukan awal tahun atau pertengahan tahun depan.

Baca Juga: WHO kirim tim pencari pasien pertama Covid-19 ke China, pakar: Sudah telat enam bulan

Melihat kebijakan pemerintah RI saat ini dan masih banyaknya orang yang tidak taat protokol kesehatan, hal itu bisa berpengaruh dalam meningkatkan potensi jumlah kasus, baik kasus positif maupun meninggal.

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie


Terbaru