kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.940.000   20.000   0,68%
  • USD/IDR 16.808   -72,00   -0,43%
  • IDX 8.032   96,61   1,22%
  • KOMPAS100 1.132   15,02   1,34%
  • LQ45 821   5,36   0,66%
  • ISSI 284   5,77   2,08%
  • IDX30 427   0,41   0,10%
  • IDXHIDIV20 513   -1,95   -0,38%
  • IDX80 127   1,53   1,22%
  • IDXV30 139   0,46   0,33%
  • IDXQ30 139   -0,29   -0,21%

Ibu konsumsi plasenta, bayi bisa terkena dampaknya


Selasa, 11 Juli 2017 / 12:31 WIB
Ibu konsumsi plasenta, bayi bisa terkena dampaknya


Sumber: Kompas.com | Editor: Hendra Gunawan

JAKARTA. Plasenta sudah digunakan sejak zaman Tiongkok kuno dalam terapi antipenuaan dan pengobatan. Produk kosmetik yang mengklaim menggunakan plasenta juga tak sedikit.

Cara yang lebih ekstrem adalah mengonsumsi pil plasenta sendiri setelah melahirkan. Plasenta tersebut dibekukan kemudian dibuat pil.

Selebriti seperti Kourtney dan Kim Kardashian, serta Katherine Heighl, adalah beberapa nama yang diberitakan melakukan terapi plasenta untuk mempertahankan kecantikan.

Manfaat lain yang diklaim adalah memperbaiki mood dan menurunkan risiko depresi pasca-melahirkan.

Walau demikian, tak sedikit dokter yang tidak merekomendasikan terapi plasenta tersebut. Risiko yang mungkin terjadi adalah menyebabkan infeksi pada bayi.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) menemukan, bayi berumur 5 hari dilarikan ke rumah sakit setelah ibunya mengonsumsi pil plasenta. Bayi tersebut mengalami sesak napas dan setelah diperiksa ia terinfeksi bakteri grup B streptococcus (GBS).

Bakteri itu biasanya ditemukan di vagina atau rektum. Proses persalinan normal bisa membuat bakteri ini berpindah ke bayinya.

Namun, seberapa sering plasenta bisa terpapar infeksi bakteri GBS? Menurut Kecia Gaither, dokter kebidanan dan kandungan, selalu ada risiko infeksi, karena itu sangat penting memperhatikan bagaimana plasenta ditangani dan disimpan setelah persalinan.

"Selain itu belum ada standar tentang bagaimana proses pembuatan kapsul plasenta dan metode yang ada sekarang belum mampu membunuh semua patogen," kata Gaither.

Walau terapi plasenta sudah dikenal lama, namun belum ada penelitian ilmiah yang membuktikan manfaatnya bagi kecantikan. (Lusia Kus Anna)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×