Penyakit Menular

Eijkman: Virus corona bermutasi sampai 7 kali, efeknya Covid-19 cepat menular

Selasa, 24 November 2020 | 16:57 WIB   Reporter: Titis Nurdiana
Eijkman: Virus corona bermutasi sampai 7 kali, efeknya Covid-19 cepat menular

ILUSTRASI. Eijman menyebut virus corona telah bermutasi sampai tujuh kali, salah satu efeknya virus Covid-19 ini lebih cepat menular. Apa efek ke vaksin? REUTERS/Tatyana Makeyeva


KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Lembaga Biologi dan Molekuler Eijkman menyebutkan bahwa berdasarkan penelitian yang mereka lakukan atas perkembangan virus corona, virus Covid-19  telah bermutasi sebanyak 7 kali sejak awal ditemukan.

Kabar baiknya,, mutasi yang berkembang atas virus corona itu belum berpengaruh dalam proses vaksin atas Covid-19.  Ini artinya proses pengembangan vaksin Covid-19 masih bisa berjalan baik, meski corona telah bermutasi.

"Mutasi (virus corona) terjadi di seluruh dunia, tapi sampai saat ini kami masih lihat mutasi itu tidak atau barangkali belum mempengaruhi kinerja vaksin. Jadi vaksin yang dikembangkan masih bisa bekerja dengan baik walau mutasi sudah banyak," kata Kepala LBM Eijkman Prof Amin Soebandrio dalam webinar Penanggulangan Corona di DKI Jakarta, Selasa (24/11).

Baca Juga: UPDATE Corona Indonesia, Selasa (24/11): Tambah 4.192 kasus, jangan lupa pakai masker

Amin juga menjelaskan  alasan pengembangan atau mutasi atas corona tak berpengaruh pada penelitian dan pengembangan vaksin Covid-19. Yakni mutasi virus corona ini sejauh ini tidak mempengaruhi struktur protein di dalam virus   atau Reseptor Binding Domain (RBD) nya.

RBD ini pula yang selama ini menjadi target penemuan dan pengembangan vaksin atas corona. Para peneliti berlomba untuk melemahkan, atau memblokir struktur dalam virus corona atau Covid-19

"Selama RBD tadi tidak diganggu mutasi, vaksin bisa bekerja menghambat atau memblokir RBD, sehingga virus tidak bisa menempel ke sel reseptor manusia," kata Amin.

Eijkman melakukan penelitian atas pberkembang pada bagian kelemahan dan kekuatan virus corona saat hinggap pada sel manusia.

Baca Juga: Soal vaksinasi corona, Kemenperin: Pengujian vial perlu untuk amankan pasar domestik

Hanya saja, kata Amir, virus corona dalam perkembangannya  menjadi lebih cepat menular. “Jika dilihat ada clade G, itu paling banyak mutasi, dengan severity dan kecepatan menular. Tapi itu tidak didukung bukti ilmiah yang kuat," ungkap dia.

Eijkman saat ini tengah mengembangkan vaksin Merah Putih yang akan digunakan untuk menangkal virus corona atau Covid-19. Proses terakhir, Eijkman akan mencoba elemen protein dari vaksin corona berlabel merah putih ini ke hewan.

Eijkman juga bakal ketat dengan uji klinis atas vaksin merah putih yang baru akan dimulai pada 2021 nanti. "Jadi, kemungkinan vaksin Merah Putih diproduksi sekitar tahun 2022," ujar Prof Amir. 

 

Editor: Titis Nurdiana


Terbaru