kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45900,82   11,02   1.24%
  • EMAS1.333.000 0,45%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Dokter Paru Minta Warga Pakai Masker dengan Benar Gara-Gara Kualitas Udara Buruk


Jumat, 18 Agustus 2023 / 21:30 WIB
 Dokter Paru Minta Warga Pakai Masker dengan Benar Gara-Gara Kualitas Udara Buruk
ILUSTRASI. Deretan gedung yang diselimuti polusi udara tampak di kawasan perkantoran Jakarta


Sumber: Kompas.com | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) meminta masyarakat menggunakan masker untuk mengurangi masuknya partikel debu maupun partikel lain dari buruknya polusi udara di kota besar.

Hal ini menindaklanjuti tingkat polusi udara di kota besar, termasuk DKI Jakarta, yang berada pada fase tidak sehat.

Anak-anak serta orang dewasa pun tidak sedikit yang jatuh sakit, salah satunya dipengaruhi oleh buruknya udara yang dihirup sehari-hari.

"Disarankan memakai masker atau respirator dengan kemampuan menyaring partikel yang maksimal, misalnya masker N95, KN95, dan sebagainya. Bila tidak tersedia, dapat menggunakan masker bedah," kata Pengurus Pusat PDPI, Nuryunita Nainggolan dalam konferensi pers secara daring di Jakarta, Jumat (18/8/2023).

Baca Juga: Ini Upaya Pemerintah Atasi Polusi Udara Jakarta

Ia menyampaikan, masker tersebut harus digunakan secara benar, yaitu menutupi hidup dan mulut secara penuh. "Penggunaan masker yang tidak benar mengurangi efektivitas proteksi mem-filtrasi atau menyaring partikel," ucap dia.

Lebih lanjut, ia meminta masyarakat ikut berperan aktif mengurangi sumber polusi udara, seperti beralih dari kendaraan pribadi ke moda transportasi massal, tidak membakar sampah sembarangan, hemat listrik, dan sebagainya.

Kemudian, memantau kualitas udara secara real time untuk bisa mengambil keputusan beraktivitas di luar rumah. Kualitas udara secara real time, dapat diakses di internet dan melalui aplikasi kualitas udara di Playstore.

Jika tidak terlalu penting, masyarakat juga dapat mengurangi aktivitas di luar ruangan pada saat kualitas udara tidak sehat. Hindari pula aktivitas fisik berat termasuk olahraga apabila berada di luar ruangan pada saat kualitas udara tidak sehat.

Baca Juga: Ridwan Kamil Sebut Asap PLTU Sumbang 25% Polusi Udara

"Apabila beraktivitas di luar ruangan, hindari kawasan atau area dengan kualitas udara yang tidak sehat dan berbahaya. Apabila berkendara dengan mobil, tutup semua jendela," jelasnya.

Tak hanya itu, ia meminta masyarakat menerapkan pola hidup bersih dan sehat, makan bergizi, cuci tangan dengan sabun, dan lain-lain. Jika terserang penyakit, kenali gejala atau keluhan yang timbul sebagai dampak polusi udara.

"Pada orang dengan penyakit sebelumnya, jantung, asma, dan penyakit paru, kenali tanda-tanda adanya serangan. Deteksi dini dan pengobatan awal dapat segera dilakukan setelah ke dokter atau pelayanan kesehatan terdekat," jelasnya.

Sedangkan untuk pemerintah, PDPI meminta agar segara membuat peraturan perundang-undangan tentang pengendalian polusi udara.

PDPI juga mendesak pemerintah untuk mengatur uji emisi kendaraan bermotor, mempercepat peraturan menyangkut penggunaan bahan bakar kendaraan sesuai standar EURO 4, dan membuat aturan untuk mengurangi emisi polusi udara dari industri.

Baca Juga: Atasi Polusi, Heru Budi Wajibkan Pejabat Pemprov DKI Pakai Kendaraan Listrik

Sebagai informasi, polusi udara di Jakarta masuk dalam kategori tidak sehat. Demikian pula di kota lainnya seperti Tangerang Selatan, Mempawah di Kalimantan Barat, Serang Banten, dan Banjar Baru di Kalimantan Selatan.

Kondisi ini dapat menimbulkan dampak kesehatan pada masyarakat. WHO mencatat saat ini, 90 persen penduduk dunia menghirup udara dengan kualitas udara yang kumuh.

Menurut WHO, setiap tahun ada 7 juta kematian, dan 2 juta di antaranya di Asia Tenggara berhubungan dengan polusi udara di luar dan dalam ruangan.

Polusi udara berkaitan erat dengan penyakit paru dan pernapasan, serta infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA, asma, bronkitis, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), kanker paru, serta penyakit jantung dan stroke.

Menurut data WHO pula, polusi udara di seluruh dunia berkontribusi 25 persen pada seluruh penyakit dan kematian akibat kanker paru, 17 persen seluruh penyakit dan kematian akibat ISPA, 16 persen seluruh kematian akibat stroke, 15 persen seluruh kematian akibat penyakit jantung sistemik, dan 8 persen seluruh penyakit dan kematian PPOK.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kualitas Udara Jakarta Memburuk, Dokter Paru Minta Warga Pakai Masker dengan Benar"

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Success in B2B Selling Omzet Meningkat dengan Digital Marketing #BisnisJangkaPanjang, #TanpaCoding, #PraktekLangsung

[X]
×