Daftar Imunisasi Dasar Lengkap untuk Anak dan Resiko Jika Anak Tidak Diimunisasi

Jumat, 18 November 2022 | 13:10 WIB   Penulis: Tiyas Septiana
Daftar Imunisasi Dasar Lengkap untuk Anak dan Resiko Jika Anak Tidak Diimunisasi

ILUSTRASI. Daftar Imunisasi Dasar Lengkap untuk Anak dan Resiko Jika Anak Tidak Diimunisasi. ANTARA FOTO/Dedhez Anggara/rwa.

KONTAN.CO.ID -  Imunisasi dasar lengkap wajib diberikan kepada anak-anak dan tidak boleh ada yang terlewakan. Imunisasi ini sangat penting untuk melindungi kesehatan anak dari berbagai amcam penyakit.

Imunisasi lengkap anak yang diberikan saat ini bertambah, dari semula hanya 11 vaksin menjadi 14 vaksin. 

Bersumber dari situs Sehat Negeriku Kementerian Kesehatan (Kemenkes), tiga imunisasi vaksin yang ditambah adalah vaksin Pneumococcal Conjugate Vaccine (PCV), vaksin Rotavirus, dan vaksin Human Papilloma Virus (HPV). 

Vaksin PCV memiliki fungsi untuk mencegah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Pneumokokus yaitu radang paru, radang selaput otak, radang telinga. 

Baca Juga: Pendaftaran PPPK Nakes 2022 Diperpanjang, Simak Jadwal Terbaru dan Syarat Daftarnya

Sedangkan vaksin Rotavirus diberikan untuk mencegah penyakit diare berat dan komplikasi akibat infeksi virus Rota. 

Imunisasi HPV diberikan kepada anak perempuan dengan tujuan untuk mencegah kanker serviks atau leher rahim yang kerap menyerang wanita. 

Daftar imunisasi dasar lengkap dan jadwal pemberiannya

Dikarenakan jumlah imunisasi yang bertambah, tentu jadwal pemberian vaksin juga mengalami beberapa penyesuaian. 

Berikut ini rangkuman dari Instagram Kemenkes tentang daftar 14 imunisasi dasar lengkap untuk anak beserta jadwal pemberiannya. 

Bayi usia 0-11 bulan

  • HB 0: 1 Dosis
  • BCG: 1 Dosis
  • DPT-HB-HiB: 3 Dosis
  • Polio Tetes (OPV): 4 Dosis
  • Polio Suntik (IPV): 1 Dosis
  • Campak Rubella: 1 Dosis
  • Pneumococcal Conjugate Vaccine (PCV): 3 dosis
  • Japanese Encephalatis (JE): 1 Dosis

Anak usia 18-24 bulan

  • DPT-HB-HiB: 1 Dosis
  • Campak Rubella: 1 Dosis
  • Pneumococcal Conjugate Vaccine (PCV): 1 dosis
  • Japanese Encephalatis (JE): 1 Dosis

Anak SD/MI

  • Diberikan kepada anak yang sudah mendapatkan imunisasi lanjutan
  • Campak rubella dan DT pada anak kelas 1 SD/MI
  • Td pada kelas 2 dan 5 SD/MI
  • HPV: 2 Dosis

Baca Juga: Referensi SNBT 2023, Cek Jurusan di UI yang Buka Kuota Mahasiswa Terbanyak 2022

Untuk vaksin Rotavirus, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), memberikan rekomendasi jadwal pemberiannya yaitu pada usia 6 minggu. 

Bersumber dari situs IDAI, terdapat dua jenis vaksin rotavirus yaitu vaksin rotavirus monovalen dan vaksin rotavirus pentavalen. 

vaksin rotavorus monovalen diberikan 2 kali. Dosis pertama mulai umur 6 minggu, dosis kedua dengan interval minimal 4 minggu dan harus selesai saat bayi berusia 24 minggu. 

Sedangkan vaksin rotavirus pentavalen diberikan sebanyak 3 dosis. Dosis pertama pada usia 6-12 minggu, dosis kedua dan ketiga dengan interval 4-10 minggu dan harus selesai saat bayi berusia 32 minggu. 

Demikian informasi tentang daftar terbaru 14 jenis vaksin dalam imunisasi dasar lengkap anak beserta jadwal pemberiannya. Anda bisa mendapatkan imunisasi anak tersebut di puskesmas, posyandu, maupun rumah sakit. 

Dampak buruk jika anak tidak diimunisasi

Imunisasi lengkap sangat penting untuk kesehatan dan perkembangan anak. Jika tidak lengkap atau bahkan tidak diimunisasi, akan muncul beragam dampak negatif bagi anak. 

Merangkum dari situs UNICEF, berikut ini 7 dampak buruk jika anak tidak mendapatkan imunisasi lengkap. 

  • Lebih rentan terkena sakit berat

Tahukah Anda, anak yang tidak menerima imunisasi lengkap dan tepat waktu akan lebih rentan mengalami berbagai penyakit yang seharusnya bisa dicegah dengan imunisasi?

Beberapa jenis penyakit tersebut adalah seperti hepatitis, TBC, batuk rejan, dan difteri yang bisa dicegah dengan imunisasi. 

Selain itu, anak yang tidak diimunisasi juga lebih rentan terhadap masalah kesehatan lain. Contohnya ketika anak terkena campak, dia akan sering mengalami komplikasi seperti diare, pneumonia, kebutaan, dan malnutrisi.

  • Anggota keluarga lain bisa mengalami sakit berat

Tahukah Anda, anak yang sedang sakit dan tidak menerima imunisasi lebih berisiko menulari orang lain di sekitarnya? Begitu pula sebaliknya, anak yang tidak diimunisasi lebih berisiko tertular penyakit.

Setiap kali seseorang sakit, maka anak, atau cucu dan orang tua, juga berisiko terinfeksi penyakit tersebut. 

Orang dewasa merupakan sumber infeksi utama pertusis (batuk rejan) pada balita, penyakit ini bahkan dapat menyebabkan kematian pada bayi. 

Imunisasi tidak hanya melindungi diri anak, tetapi juga orang tua dan anggota keluarga lain atau orang-orang di lingkungan sekitar yang mungkin kesulitan mendapatkan akses vaksinasi.

Orang dewasa juga tetap mungkin tertular penyakit dan mengalami gejala yang ringan namun dengan komplikasi yang fatal.

Baca Juga: 20 Pekerjaan yang Banyak Dibutuhkan di Masa Depan Versi WEF, Tertarik Menggelutinya?

Ibu hamil yang tertular virus rubela, misalnya, sangat berisiko melahirkan anak dengan berbagai bentuk komplikasi bawaan, disebut dengan sindrom rubela kongenital (SRK). 

Selain itu, ibu hamil yang tertular virus campak berisiko mengalami keguguran.

  • Menyebabkan wabah penyakit

Kasus-kasus penyakit menular seperti polio di kalangan kelompok rentan dapat berkembang luas menjadi wabah di masyarakat. Karena hal ini lah, pemerintah saat ini masih memberikan imunisasi polio kepada anak. 

Jika jumlah anak yang tidak mendapatkan imunisasi bertambah banyak, maka penyakit yang selama bertahun-tahun ini berhasil dicegah dapat kembali mewabah.

  • Biaya pengobatan membengkak

Suatu penyakit tidak hanya berdampak langsung terhadap penderita dan keluarganya, tetapi juga terhadap masyarakat secara keseluruhan. 

Suatu penyakit dan komplikasinya dapat membutuhkan biaya tinggi dan perawatan yang memakan waktu.

Contohnya speerti pasien difteri. Pasien membutuhkan rawat inap segera di fasilitas kesehatan yang mampu menangani penyakit ini besertakomplikasi-komplikasinya. Pasien akan ditempatkan di ruang isolasi dan diberikan obat-obatan khusus. 

Penyakit campak rata-rata memerlukan sekitar 15 hari perawatan, termasuk rata-rata kehilangan 5-6 hari kerja atau sekolah bagi karyawan atau pelajar. 

Orang dewasa yang terkena hepatitis rata-rata tidak bisa bekerja selama satu bulan. Sedangkan bayi yang terlahir dengan SRK, ia akan membutuhkan pengobatan seumur hidup dan bantuan serta terapi medis yang berbiaya tinggi.

  • Penurunan kualitas hidup

Penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi memiliki risiko komplikasi yang mengakibatkan disabilitas tetap. 

Contohnya, campak yang dapat menyebabkan kebutaan. Ada pula kelumpuhan sebagai gejala terberat yang dikaitkan dengan polio karena dapat menimbulkan disabilitas permanen dan kematian.

  • Risiko penurunan harapan hidup

Vaksinasi yang tidak lengkap menyumbang kepada penurunan angka harapan hidup. Sebaliknya, imunisasi lengkap hingga anak berusia lima tahun dapat meningkatkan angka harapan hidup. 

Data menunjukkan bahwa anak yang tidak menerima imunisasi lengkap lebih mungkin tertular berbagai penyakit saat masih kanak-kanak, sehingga angka harapan hidupnya pun menurun.

Baca Juga: Segera Cek HP Sekarang, Ini Ciri-Ciri HP Disadap yang Perlu Anda Waspadai

Di Papua Barat, dari tahun 2010 - 2017, angka harapan hidup meningkat berkat peran penting dari peningkatan jumlah anak yang mendapatkan imunisasi lengkap.

Di Brazil, antara tahun 1940 dan 1998, angka harapan hidup saat lahir naik sekitar 30 tahun. Hal ini utamanya disebabkan oleh menurunnya angka kematian  akibat penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Imunisasi.

  • Akses perjaanan dan sekolah terbatas

Beberapa negara mensyaratkan imunisasi lengkap bagi warga asing yang hendak berkunjung. Jika tidak diimunisasi, anak dapat kehilangan kesempatan untuk mengenyam pendidikan di negara-negara tersebut.

Selain itu, sudah semakin banyak sekolah yang mencantumkan ‘imunisasi lengkap’ sebagai syarat pendaftaran. Tujuannya adalah agar semua anak dan warga sekolah terlindung dari penyakit yang dapat dicegah oleh vaksin dan dengan demikian anak dapat menikmati hak belajarnya secara penuh di sekolah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tiyas Septiana

Terbaru