Tips Sehat

Cerita para analis melakukan beragam test Covid-19

Selasa, 15 Desember 2020 | 09:05 WIB   Reporter: Danielisa Putriadita
Cerita para analis melakukan beragam test Covid-19

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kurva pademi covid-19 di Indonesia masih terus meningkat. Risiko terpapar virus jadi makin tinggi.

Selain tetap menerapkan  protokol kesehatan 3M (Memakai masker-Mencuci tangan-Menjaga jarak) dengan disiplin, sadar untuk memeriksa kesehatan baik secara rutin atau tidak juga penting dilakukan. Salah satunya, masyarakat juga diminta inisiatif melakukan tes Covid-19 bila diperlukan.

CEO PT Indosurya Bersinar Sekuritas William Surya Wijaya mengatakan dirinya rutin melakukan tes Covid-19. Pekerjaan William yang mengharuskan ia banyak bertemu dengan orang lain menyadarkan dirinya untuk rutin menjalakan tes.

"Kesadaran diri sendiri untuk menghormati orang yang saya harus ketemu langsung, jadi saya memastikan diri saya bebas virus dulu agar jangan sampai orang tertular gara-gara saya," kata William, Senin (14/12).

Serangkaian tes Covid-19 yang pernah William lakukan adalah rapid test hampir dua minggu sekali, swab test-PCR sebulan sekali, dan William juga pernah menjalani tes swab antigen dan tes serelogi.

Baca Juga: UPDATE Corona Indonesia, Senin (14/12): Bertambah 5.489 kasus baru, patuhi 3M

William mengatakan beragam jenis tes tersebut memiliki perbedaan dari tingkat akurasi. Sekadar informasi swab test-PCR merupakan satu-satunya tes yang bisa dijadikan sebagai diagnosis Covid-19.

Analis BCA Sekuritas Achmad Yaki juga pernah melakukan tes Covid-19 beberpa kali. "Saya pernah dua kali tes diambil dari lubang hidung dan kerongkongan, dua kali serelogi, dan satu kali rapid test," kata Achmad.

Sukarno Alatas Analis Kiwoom Sekuritas juga pernah melakukan rapid test tiga hingga empat kali, serta tes serelogi (ambil darah di lengan) dua kali. Rapid test pernah Sukarno lakukan di kantor. Sedangkan, tes serelogi ia lakukan di klinik.

William mengatakan keunggulan dan kelemahan beragam jenis tes tersebut terdapat pada cara pengambilan sampel yang akan diuji. Namun, pengalaman setiap orang tentu akan berbeda-beda.

William mengaku ia sebenarnya takut untuk ditusuk jarum suntik. Rapid test dan serelogi yang membutuhkan pengambilan darah menjadi tes yang kurang ia sukai.

Dari serangkaian tes rapid yang Achmad lakukan ia mengetahui bahwa swab test PCR merupakan tes yang paling akurat dibandingkan serelogi atau rapid test. Namun, swab test menjadi tes yang paling sakit bagi Achmad.

Sementara, menurut Sukarno tes serelogi cukup membuatnya merasa tidak nyaman karena sampel darah yang diambil cukup banyak. "Rapid test yang diambil darah dari jari tidak banyak memerlukan darah, berbeda dengan tes serelogi," kata Sukarno.

Baca Juga: Satgas Covid-19: Sebaiknya pengadaan tes usap dihemat

Untuk menjangkau tes Covid-19 yang harus dilakukan di rumah sakit, William menggunakan fasilitas drive thru agar mengurangi kontak dengan orang lain saat antri tes.

"Tes Covid ini merupakan hal yang tidak biasa tetapi mau tidak mau harus dilakukan harus dibiasakan demi meredam penyebaran virus," kata William.

Menurut William baiknya semua orang sadar untuk memakai masker berstandar 3 lapis. Selain itu, sebelum merasa haus juga harus langsung minum sehingga tenggorokan tidak pernah kering. Tidak lupa makan teratur dan olahraga.

"Ini semua bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi menjaga orang yang kita temui, sekeliling dan terutama keluarga," kata William.

#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #jagajarakhindarikerumunan #cucitangan #cucitanganpakaisabun

 

Editor: Yudho Winarto
Tag
Terbaru