Kesehatan Umum

Cerita Bima Arya saat kena Covid-19, dari hampir mati sampai dikira settingan

Jumat, 04 Desember 2020 | 18:29 WIB   Reporter: Titis Nurdiana
Cerita Bima Arya saat kena Covid-19, dari hampir mati sampai dikira settingan

ILUSTRASI. Wali Kota Bogor Bima Arya bercerita saat terpapar Covid-19, dari hampir mati sampai dikira settingan. ANTARA FOTO/Arif Firmansyah/wsj.


KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Wali Kota Bogor Bima Arya adalah survivor corona atau Covid-19. Bima Arya sempat terinfeksi virus corona pada Maret 2020, bahkan menjadi pasien 001 di Kota  Bogor.

Dalam diskusi daring Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jumat (4/12) menceritakan asal muasal ia tertular virus corona atau Covid-19.

Tanggal 17 Maret 2020, Bima Arya sedang rapat dengan Dinas Kesehatan, Humas Kominfo, dan Humas, di rumah dinas walikota. “Saya sudah merasa

kurang enak bada. Saya menduga karena jetlag seusai pulang dari kunjungan kerka ke Turki,” ujarnya.

Bima mengatakan, rapat tersebut membahas atas sulitnya warga Bogor susah diberitahukan soal ketaatan protokol kesehatan.

"Orang Bogor diminta peduli ancaman COVID-19 itu susah banget. Sampai di rapat saya nyeletuk 'masa sampai harus ada yang positif biar orang Bogor ngerti COVID bahaya,” ujar dia.

Baca Juga: Kepatuhan Protokol Kesehatan Menurun, Penanganan Covid-19 Memburuk

Sejam kemudian, Bima mendapat telepon Gubernur Jabar bahwa hasil swab Bima positif.

Malam itu, Bima mengaku langsung dibawa ke RSUD Kota Depok. “Disitulah mulailah masa isolasi 22 hari yang menurut saya  sangat berat,” ujar dia.

 Bima mengaku, ia mengaku gejala seperti demam berdarah yakni lemas, pusing, dan mual, yang juga disertai batuk.

"Saya ingat sekali besoknya orang cerita bahwa Kota Bogor sepi sesepi-sepinya, karena saya pasien 001 di Kota Bogor. Artinya saat itu ada shock theraphy, wah walkot aja bisa kena," kata Bima.

Tantangan kemudian muncul saat Bima sembuh. “Banyak yang mempertanyakan kebenaran sakit yang dialaminya, bahkan ada yang menduga sakit saya settingan,” ujar Bima tak habis piker.

Dari pengalamannya pernah kena corona, Bima merasa hampir meninggal. Bima bahkan sempat bernazar, jika sembuh akan berusaha semaksimal mungkin mengatasi pandemi COVID-19.

'Ya Allah bila diberi izin untuk sehat, izinkan saya untuk ikhtiar maksimal ada di depan selamatkan sebanyak mungkin manusia'.

Bima lantas bekerja sama dengan Nanyang Technology University (NTU) Singapura, melakukan survei soal keyakinan warga terhadap COVID-19. Hasilnya 29% percaya bahwa COVID-19 nyata, dan 50% swing voters alias antara percaya dan tidak percaya.

"Makanya di Bogor, kami yakin semuanya didasarkan pada edukasi. Kami tak mungkin minta ini itu tapi tak melakukan edukasi, jadi sulit dengan denda dan lain-lain," ujarnya.

Berdasarkan survei, edukasi mumpuni nomer satu khusus di kota Bogor adalah melalui tokoh agama, pejabat, dan terakhir adalah artis. 

 

#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #jagajarakhindarikerumunan #cucitangan #cucitanganpakaisabun

 

Editor: Titis Nurdiana


Terbaru