Penulis: Prihastomo Wahyu Widodo
KONTAN.CO.ID - Asap yang dihasilkan dari kebakaran hutan membawa berbagai polutan berbahaya yang dapat berdampak langsung terhadap kesehatan.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), asap kebakaran hutan merupakan campuran polutan udara seperti PM2.5, nitrogen dioksida (NO2), ozon, hidrokarbon aromatik, dan timbal.
Dari berbagai zat tersebut, partikel halus atau particulate matter (PM) menjadi salah satu ancaman kesehatan terbesar.
Ukuran PM2.5 yang sangat kecil membuatnya dapat masuk jauh ke dalam paru-paru. Dari sana, paparan asap dapat memengaruhi berbagai bagian tubuh, tidak hanya sistem pernapasan.
Baca Juga: Gempa Magnitudo 5,7 Guncang Manggarai NTT, BMKG Catat Tiga Gempa Beruntun
1. Asap Kebakaran Hutan Bisa Picu Asma
American Lung Association menjelaskan bahwa partikel dalam asap kebakaran berukuran sangat kecil dan dapat masuk serta menumpuk jauh di dalam paru-paru. Paparan tersebut dapat memicu serangan asma dan memperburuk gangguan pernapasan yang sudah ada.
Studi terhadap anak-anak di California juga menemukan bahwa anak yang menghirup udara penuh asap saat kebakaran lebih sering mengalami batuk, mengi, bronkitis, dan infeksi saluran pernapasan.
WHO juga menyebut PM2.5 dari asap kebakaran berkaitan dengan berbagai penyakit pada paru-paru dan dapat memperburuk kondisi kesehatan yang sudah ada.
Baca Juga: Tanggap Darurat NTT, Pertamina Patra Niaga Siapkan 1 Kiloliter Pertamina Dex
2. Risiko Serangan Jantung dan Stroke
Penelitian Environmental Protection Agency (EPA) Amerika Serikat juga menemukan hubungan antara paparan asap kebakaran dengan gangguan pada jantung dan sistem pernapasan.
Dalam penelitian terhadap asap dari pembakaran gambut, paparan selama satu jam menyebabkan peningkatan tekanan darah serta munculnya penanda peradangan.
Penelitian EPA lainnya menemukan peningkatan risiko berbagai gangguan jantung dan pernapasan pada masyarakat yang terpapar asap. Peningkatan risiko tersebut bahkan masih terlihat hingga beberapa hari setelah paparan.
EPA menyebut risiko tertinggi terjadi pada hari-hari dengan asap paling pekat, tetapi dampaknya dapat bertahan selama beberapa hari.
Baca Juga: PAL Jaya Gandeng 80 Perusahaan Swasta Kelola Penyedotan Lumpur Tinja
3. Gangguan Otak dalam Hitungan Jam
Salah satu dampak yang mungkin tidak langsung terlihat adalah gangguan terhadap fungsi otak.
Penelitian EPA menunjukkan paparan PM2.5 dari asap kebakaran berkaitan dengan penurunan kemampuan memperhatikan pada orang dewasa. Dampaknya bahkan dapat muncul hanya dalam beberapa jam setelah paparan.
WHO juga mencatat bahwa paparan PM2.5 dari asap kebakaran dapat memengaruhi otak dan sistem saraf. Dampaknya antara lain gangguan kognitif dan kehilangan memori.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa dampak asap kebakaran tidak selalu berupa gejala fisik seperti batuk atau sesak napas. Fungsi kognitif juga dapat ikut terdampak.
Baca Juga: Cek Potensi Long Weekend Terakhir Agustus 2026: Pastikan Tambah Cuti Pribadi
4. Dampak Fatal Karbon Monoksida
Selain PM2.5, asap kebakaran mengandung gas berbahaya seperti karbon monoksida (CO).
Menurut American Lung Association, CO merupakan gas tidak berwarna dan tidak berbau yang banyak ditemukan pada tahap api membara serta di sekitar sumber kebakaran.
Ketika terhirup, karbon monoksida dapat mengurangi pasokan oksigen ke organ dan jaringan tubuh. Paparan dapat menyebabkan sakit kepala, mual, dan pusing. Dalam konsentrasi tinggi, gas tersebut dapat menyebabkan kematian.
Baca Juga: Pertamina Pastikan Pasokan BBM dan Elpiji Tetap Aman di Flores
Anak-anak hingga Lansia Lebih Rentan
WHO secara khusus menyoroti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan orang dengan penyakit kronis sebagai kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih.
Petugas pemadam kebakaran dan pekerja tanggap darurat juga menghadapi risiko tinggi karena dapat terpapar asap dalam konsentrasi besar. Selain inhalasi asap, mereka menghadapi risiko cedera dan luka bakar selama menjalankan tugas.
Penelitian EPA menunjukkan jenis bahan bakar seperti gambut, eucalyptus, dan kayu dapat menghasilkan komposisi asap yang berbeda.
Kondisi pembakaran, baik api berkobar maupun membara, juga memengaruhi jenis polutan yang dilepaskan.
Baca Juga: Pertamina Patra Niaga Upayakan Pemulihan Energi untuk Penanganan Gempa NTT
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













