Apakah Cacar Monyet Mengancam Jiwa? Ini Penjelasan Ahli

Kamis, 25 Agustus 2022 | 04:26 WIB Sumber: Kompas.com
Apakah Cacar Monyet Mengancam Jiwa? Ini Penjelasan Ahli

ILUSTRASI. Indonesia mengumumkan temuan kasus cacar monyet pertama pada Sabtu (20/8/2022).


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Virus cacar monyet kini telah masuk Indonesia. Banyak orang yang cemas, apakah cacar monyet berbahaya? 

Kekhawatiran ini beralasan. Pasalnya, monkeypox atau cacar monyet telah ditetapkan sebagai darurat kesehatan global sejak penyakit kembali mewabah di banyak negara pada awal 2022. 

Untuk diketahui, sedikitnya 40.000 orang dari 90 negara terinfeksi virus monkeypox. Indonesia mengumumkan temuan kasus cacar monyet pertama pada Sabtu (20/8/2022). 

Untuk mengenal lebih dekat penyakit menular yang muncul di tengah-tengah pandemi Covid-19 ini, simak penjelasan berikut. 

Apakah cacar monyet berbahaya?

Penyakit cacar monyet sejauh ini tidak berbahaya. Tingkat kematian penyakit ini relatif rendah dibandingkan wabah lainnya. Meskipun tidak berbahaya, penyakit ini dapat menimbulkan gejala ruam dan melenting khas cacar yang menyakitkan dan terkadang meninggalkan bekas luka cacar yang susah dihilangkan. 

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, tingkat kematian cacar monyet sejak terdeteksi kali pertama pada 1970 silam berkisar antara 0 sampai 11 persen. Rasio kematian monkeypox beberapa tahun ini berkisar 3 hingga 6 persen. Namun, tingkat kematian penyakit ini sejak ditetapkan sebagai darurat kesehatan global oleh WHO ternyata masih di bawah satu persen. 

Berdasarkan data Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), jumlah penderita cacar monyet di seluruh dunia yang dilaporkan per 19 Agustus 2022 adalah 41.358 orang. Dari jumlah tersebut, ada 12 kematian terkait penyakit ini. Dari perbandingan tersebut, rasio kematiannya sekitar 0,03 persen.

Baca Juga: Inilah Fakta Penting Tentang Vaksin Cacar Monyet

Ahli penyakit menular dari Downstate Health Sciences University AS Jameela Yusuff menjelaskan, cacar monyet tidak berbahaya karena penyakit ini relatif tidak mematikan dibandingkan wabah lainnya. 

“Hal ini dipengaruhi virus penyebab cacar monyet yang tengah mewabah dan penyakit kebanyakan menyerang orang muda dengan kondisi fisik sehat atau tanpa penyakit penyerta (komorbid),” jelas dia, dilansir dari Insider (5/8/2022). 

Yusuff membandingkan tingkat bahaya cacar monyet dengan wabah penyakit lain ditilik dari tingkat kematian yang lebih tinggi. Cacar monyet memiliki tingkat kematian di bawah 1 persen, Covid-19 memiliki tingkat kematian antara 0,1—14,5 persen, ebola memiliki tingkat kematian 25—95 persen, cacar memiliki tingkat kematian 1–30 persen, dan pes memiliki tingkat kematian 10—70 persen. 

Walaupun cacar monyet relatif tidak berbahaya, namun penyakit ini perlu dikendalikan agar penularannya tidak meluas dan mutasi virus penyebab cacar monyet bisa diminimalkan. 

Baca Juga: Dari Hari ke Hari, Inilah Gejala Cacar Monyet yang Harus Diwaspadai

Siapa yang berisiko terkena penyakit cacar monyet? 

Melansir indonesiabaik.id, World Health Organization (WHO) atau Organisasi Kesehatan Dunia menetapkan cacar monyet sebagai keadaan darurat kesehatan global. 

WHO menyebut ada tiga kelompok orang yang paling rentan tertular cacar monyet. Kelompok ini harus menjaga diri sebaik mungkin karena menjadi yang paling berisiko. 

Yang paling berisiko adalah orang yang tinggal dengan atau memiliki riwayat kontak erat (termasuk kontak seksual) dengan seseorang yang terinfeksi monkeypox, atau yang memiliki kontak rutin dengan hewan yang dapat terinfeksi. 

Tenaga kesehatan juga memiliki risiko sehingga perlu untuk selalu menerapkan prosedur PPI (Pencegahan dan Pengendalian Infeksi).  

Kemudian, bayi baru lahir, anak-anak, dan orang dengan gangguan kekebalan tubuh berisiko mengalami gejala-gejala lebih serius dan kematian akibat monkeypox.

Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Apakah Cacar Monyet Berbahaya? Simak Penjelasan Ahli Berikut..."
Penulis : Mahardini Nur Afifah
Editor : Mahardini Nur Afifah

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Terbaru