HOME

Agar tak seperti Chili, vaksinasi harus dijalankan tapi penerapan 5M tak boleh kendor

Sabtu, 17 April 2021 | 15:45 WIB Sumber: BBC
Agar tak seperti Chili, vaksinasi harus dijalankan tapi penerapan 5M tak boleh kendor

ILUSTRASI. Petugas melakukan pemeriksaan suhu tubuh di perbatasan Chili dan Peru di Chacalluta, Arica, Chili (18/3/2020). REUTERS/Ibar Silva

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Vaksinasi yang tengah digeber pemerintah harus disertai dengan kedispilinan masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan. Sebab tanpa penerapan protokol kesehatan, pandemi Covid-19 akan sulit dilawan. 

Berbagai literasi menunjukkan, kepatuhan masyarakat dalam menerapkan 5M berkaitan erat dengan penambahan kasus Covid-19. Penerapan 5M yang dimaksud adalah memakai masker, mencuci tangan dengan sabun pada air mengalir, menjaga jarak, menjauhi kerumunan serta membatasi mobilitas. 

Kejadian di Chili mungkin bisa dijadikan pelajaran soal pentingnya menerapkan protokol kesehatan dalam menekan pandemi corona.

Chili merupakan negara tercepat yang melakukan vaksinasi demi melawan pandemi Covid-19. Negara di Amerika Latin berpenduduk sekitar 18 juta jiwa itu memulai vaksinasi menggunakan vaksin Sinovac sejak akhir Desember 2020. 

Hingga saat ini sudah lebih dari 7,4 juta warga menerima suntikan pertama. Sementara sekitar 4,3 juta warga telah menuntaskan proses vaksinasi.

Yang menarik, meski giat melakukan vaksinasi, kasus harian virus Covid-19 di Chili justru meningkat.

Misalnya, pada 9 April 2021, jumlah kasus hariannya mencapai rekor tertinggi baru, melebihi 9.000 kasus. Rekor tertinggi sebelumnya muncul pada pertengahan Juni 2020, namun angkanya saat itu masih di bawah 7.000 kasus.

Dikutip dari BBC, Pemerintah Chili, untuk kali kedua terpaksa menutup perbatasannya bagi seluruh warga negara asing (WNA). 

Baca Juga: Tambah 234.692 kasus Covid-19, India catat rekor kenaikan harian kedelapan

Ada sejumlah hal yang membuat kasus Covid-19 kembali melonjak di Chili, utamanya terkait pelonggaran pembatasan sosial dan kedisiplinan sebagian masyarakat di negara itu dalam menerapkan protokol kesehatan. 

Pemerintah Chili dinilai terlalu cepat melonggarkan pembatasan sosial dengan mengijinkan warganya berwisata ke seluruh penjuru negeri itu selama liburan musim panas pada Januari dan Februari 2021. Perbatasan juga dibuka yang memungkinkan turis asing kembali masuk ke Chili. 

Padahal, pada saat itu sebagian besar warga Chili belum divaksin. Vaksinasi dimulai akhir Desember 2020 dan menyasar tenaga kesehatan, guru serta orang berumur 90 tahun keatas. 

Sementara itu, penyebaran varian baru Covid-19 yang lebih mudah ditularkan, seperti varian P.1, diperkirakan telah muncul di negara bagian Amazonas, Brasil, pada November 2020.

Dr Susan Bueno, profesor imunologi dari Universitas Katolik Pontifical menyebut, protokol kesehatan seperti memakai masker dan mencuci tangan, juga agak diabaikan selama bulan-bulan musim panas di Chili. Hal itu diduga kuat menjadi salah satu penyebab lonjakan kasus corona di negara itu.

#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #jagajarakhindarikerumunan #cucitangan #cucitanganpakaisabun

Selanjutnya: Kasus corona meledak lagi, jumlah kematian global tembus 3 juta orang

 

 

Editor: Tedy Gumilar
Terbaru