Ada 1 Pasien Di Indonesia, Apakah Cacar Monyet Berbahaya? Ini Kata Kemenkes & IDI

Senin, 22 Agustus 2022 | 06:51 WIB   Reporter: Adi Wikanto
Ada 1 Pasien Di Indonesia, Apakah Cacar Monyet Berbahaya? Ini Kata Kemenkes & IDI

ILUSTRASI. Ada 1 Pasien Di Indonesia, Apakah Cacar Monyet Berbahaya? Ini Kata Kemenkes & IDI


KONTAN.CO.ID - Jakarta. Seorang warga negara Indonesia (WNI) di Jakarta dipastikan positif monkeypox atau cacar monyet. Apakah cacar monyet atau monkeypox berbahaya? Simak juga cara penularan cacar monyet.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dalam keterangan resmi menjelaskan pasien monkeypox / cacar monyet tersebut merupakan seorang laki-laki berusia 27 tahun. Pasien cacar monyet atau monkeypox ini memiliki riwayat perjalanan ke Belanda, Swiss, Belgia dan Perancis sebelum tertular.

Berdasarkan penelusuran, pasien berpergian ke luar negeri antara tanggal 22 Juli hingga tiba kembali di Jakarta pada 8 Agustus 2022. Pasien mulai mengalami gejala awal monkeypox / cacar monyet di tanggal 11 Agustus 2022.

Setelah berkonsultasi ke beberapa fasilitas kesehatan, pasien monkeypox / cacar monyet tersebut masuk ke salah satu rumah sakit milik Kementerian Kesehatan pada tanggal 18 Agustus 2022. Hasil test PCR pasien terkonfirmasi positif monkeypox / cacar monyet pada malam hari tanggal 19 Agustus 2022.

“Saat ini pasien dalam keadaan baik, tidak sakit berat dan ada cacarnya atau ruam-ruamnya di muka, di telapak tangan dan kaki. Pasien tidak perlu dirawat di rumah sakit, tapi cukup isolasi mandiri,” ungkap Juru Bicara Kementerian Kesehatan RI dr. Mohammad Syahril, Sp.P, MPH dalam keterangan pers (20/8).

Konfirmasi kasus monkeypox / cacar monyet pertama di Indonesia telah ditindaklanjuti oleh Dinas Kesehatan DKI Jakarta bersama Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes untuk melakukan surveilans kepada masyarakat atau kontak erat dari pasien.

Lalu, apakah cacar monyet berbahaya?

Baca Juga: Monkeypox Resmi Masuk Indonesia, Ini Cara Membedakan Gejala Cacar Monyet & Cacar Air

Syahril menghimbau masyarakat agar tidak panik. Pasalnya, cacar monyet tidak berbahaya jika dibandingkan penyakit yang kini sedang menjadi pandemi, Covid-19.

Cacar monyet juga tidak berbahaya dibandingkan Covid-19 karena daya tular dan fatalitas monkeypox / cacar monyet sangat rendah dibandingkan dengan Covid-19.

Sebagai gambaran, saat ini ada 39,718 kasus konfirmasi monkeypox / cacar monyet diseluruh dunia. Sekitar 89 negara yang sudah melaporkan adanya kasus monkeypox / cacar monyet di negaranya. 

Jumlah pasien cacar monyet yang meninggal hanya 12 orang, atau kurang dari 0.001% dari total kasus.

Transmisi monkeypox / cacar monyet tidak semudah Covid-19 yang melalui droplet di udara. “Penularan monkeypox melalui kontak erat,” kata Syahril.

Sebagai bentuk kewaspadaan, tambah Syahril, Kemenkes sudah melakukan pemantauan intensif di seluruh pintu masuk Indonesia, baik dari udara, laut, maupun darat yang berhubungan langsung kepada negara-negara yang sudah melaporkan adanya kasus monkeypox.

Dikutip dari Kompas.com, Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) melalui Satgas Monkeypox atau Clades PB IDI juga menyatakan cacar monyet tidak berbahaya. IDI meminta masyarakat tetap tenang dan tidak panik sesuai arahan Kemkes.

Ketua Umum PB IDI, M. Adib Khumaidi mengatakan bahwa PB IDI terus berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan RI dan Dinas Kesehatan setempat, serta IDI Wilayah dan IDI Cabang mengenai kewaspadaan penyakit cacar monyet di Indonesia.

"Kami meminta tim medis dan tenaga kesehatan untuk tetap waspada dan segera melaporkan pada Dinas Kesehatan setempat apabila ditemukan pasien dengan gejala mirip cacar monyet, supaya bisa segera ditangani dan ditindaklanjuti," kata Adib dalam siaran pers pada Sabtu (20/8/2022).

Ketua Satgas Monkeypox atau Clades PB IDI, Hanny Nilasari mengingatkan perlunya mempertahankan protokol kesehatan secara ketat serta lebih aktif menjalankan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Meski, sudah ada kelonggaran melakukan berbagai kegiatan di berbagai tempat. "Bagi yang merasa bergejala dapat segera berobat menemui dokter terdekat," tutup dr Hanny.

Cara penularan cacar monyet / monkeypox

Cara penularan cacar monyet adalah kontak erat. Dengan demikian, penyakit cacar monyet atau monkeypox bisa menular jika terjadi sentuhan anggota badan.

Untuk mencegah penularan cacar monyet, Syahril mengingatkan kepada seluruh masyarakat agar selalu melakukan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dan meningkatkan protokol kesehatan. “Protokol kesehatan ini bukan hanya untuk monkeypox saja tapi juga untuk seluruh penyakit menular,” kata dr. Syahril.

Pemerintah telah memberikan pedoman kepada seluruh Dinas Kesehatan di Indonesia, seluruh rumah sakit, dan seluruh Puskesmas untuk memberikan perhatian yang lebih terhadap monkeypox / cacar monyet.

Ia berharap jangan sampai ada petugas kesehatan di fasilitas kesehatan manapun yang tidak paham dengan cacar monyet, karena ini bagian dari kewaspadaan.

Gejala cacar monyet / monkeypox

Gejala monkeypox / cacar monyet mirip dengan gejala cacar air, namun lebih ringan. Gejala dimulai dengan demam, sakit kepala, nyeri otot, dan kelelahan.

Perbedaan utama antara gejala cacar air dan monkeypox / cacar monyet adalah bahwa cacar monyet menyebabkan pembengkakan pada kelenjar getah bening (limfadenopati) sedangkan cacar air tidak.

Cacar monyet biasanya merupakan penyakit yang sembuh sendiri dengan gejala yang berlangsung dari 2 hingga 4 minggu.

Cara mengobati monkeypox / cacar monyet

Pasien monkeypox tidak diperlukan ruang isolasi sebagaimana pasien Covid-19. Ruang isolasi untuk pasien Covid-19 memerlukan tekanan negatif, sementara untuk pasien monkeypox ruang isolasi tersebut tidak diperlukan.

Terapi Perawatan klinis untuk monkeypox / cacar monyet harus dioptimalkan sepenuhnya untuk meringankan gejala, mengelola komplikasi, dan mencegah gejala sisa jangka panjang. Pasien monkeypox / cacar monyet harus diberi cairan obat dan makanan untuk mempertahankan gizi yang memadai.

Infeksi bakteri sekunder harus diobati sesuai indikasi. Antivirus yang dikenal sebagai tecovirimat yang dikembangkan untuk cacar dilisensikan oleh European Medicines Agency (EMA) untuk monkeypox pada tahun 2022 berdasarkan data pada penelitian pada hewan dan manusia.

Tecovirimat belum tersedia secara luas. Jika digunakan untuk perawatan pasien, tecovirimat idealnya harus dipantau dalam konteks penelitian klinis dengan pengumpulan data prospektif.

Terkait vaksinasi, WHO belum memberikan rekomendasi untuk vaksinasi massal dalam menghadapai monkeypox. Ada dua atau tiga negara yang sudah melakukan vaksinasi dan Indonesia juga sedang memproses untuk pengadaannya dan harus melalui rekomendasi dari Badan POM.

Pasien monkeypox / cacar monyet akan sembuh sendiri manakala tidak ada infeksi tambahan atau tidak ada komorbid yang berat yang dapat memperparah kondisi pasien. “Kalau pasiennya tidak ada komorbid dan tidak ada penyakit pemberat lain, Insya Allah sebetulnya pasien ini bisa sembuh sendiri,” ucap Syahril. 

Jadi, penyakit cacar monyet tidak berbahaya. Namun masyarakat tetap harus waspada dan melakukan pencegahan terhadap penularan cacar monyet.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Adi Wikanto

Terbaru