6 Penyebab Kesemutan yang Tidak Boleh Diabaikan, Bisa Jadi Awal Penyakit Berbahaya

Senin, 05 September 2022 | 15:54 WIB   Penulis: Tiyas Septiana
6 Penyebab Kesemutan yang Tidak Boleh Diabaikan, Bisa Jadi Awal Penyakit Berbahaya

ILUSTRASI. 6 Penyebab Kesemutan yang Tidak Boleh Diabaikan, Bisa Jadi Awal Penyakit Berbahaya.


KONTAN.CO.ID - Ada berbagai macam penyebab bagian tubuh mengalami kesemutan. Umumnya, gejala ini disebabkan karena terlalu lama berada diposisi tertentu seperti duduk atau berdiri terlalu lama.

Kesemutan adalah sensasi tertusuk-tusuk, terbakar dan mati rasa di bagian tubuh tertentu, seperti ada ratusan semut yang tiba-tiba menggerayangi tubuh. Istilah medis untuk kesemutan adalah parestesia.

Menurut dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya) Era Catur Prasetya, kesemutan yang berlangsung lama atau berulang-ulang dapat menandakan kondisi yang berbahaya.

Dia menjelaskan, penyebab kesemutan bisa timbul karena aktivitas yang terlalu tegang dan dalam waktu lama. 

Baca Juga: 9 Warisan Dunia UNESCO di Indonesia, Ada Candi Borobudur hingga Taman Nasional Komodo

Pada dasarnya, kesemutan merupakan suatu gejala dari gangguan sistem saraf sensorik akibat rangsang listrik di sistem itu tidak tersalur secara penuh.

"Kesemutan yang terjadi diiringi gejala lain, perlu diperhatikan. Kesemutan bisa saja menjadi awal gejala penyakit atau sebaliknya, karena penyakit yang diderita," kata Catur, seperti dikutip dari situs UM Surabaya.

Penyebab kesemutan yang wajib diwaspadai 

Catur bilang, jika kesemutan diiringi dengan rasa haus, seringnya intensitas buang air kecil, berat badan turun walaupun banyak makan, nyeri seperti ditusuk-tusuk pada telapak kaki, segera lakukan pemeriksaan. Bisa jadi ini adalah gejala lain komplikasi diabetes mellitus (kencing manis).

Penyebab kesemutan juga bisa terjadi karena kekurangan kalsium. Kalsium merupakan jenis mineral penting yang dibutuhkan untuk kontraksi otot dan transmisi syaraf. 

Kekurangan kalsium bisa menyebabkan kram otot dan kesemutan, tetapi mungkin juga menandakan masalah gagal ginjal, kekurangan vitamin D dan Hipoparatiroidisme (penurunan fungsi kelenjar paratiroid).

Penyebab kesemutan lainnya adalah cedera. Kesemutan dan kram akibat trauma kompresi saraf dapat terjadi setelah seseorang mengalami kecelakaan atau cedera pada tulang belakang. 

Cara mengatasi kesemutan karena cedera adalah dengan konsultasi ke rumah sakit untuk mencari penyebabnya dan dilakukan fisioterapi.

Penyebab kesemutan selanjutnya adalah karena Rheumatoid Arthritis (rematik). Menurut Merck Medical Library, Rheumatoid Arthritis dari pergelangan kaki dapat menyebabkan tekanan dan pembengkakan yang akan memicu kesemutan di kaki.

"Usahakan agar kaki tetap terangkat ke atas untuk meringankan gejala. Tetapi pada beberapa kasus kronis, dokter mungkin akan menyarankan operasi," ujar Catur.

Baca Juga: Beasiswa KAIST 2023 Jenjang S2 dan S3 ke Korea Selatan Dibuka, Ini Syarat Daftarnya

Kesemutan bisa jadi tanda stroke ringan

Catur menambahkan, untuk penderita penyakit jantung, penyebab kesemutan bisa terjadi karena ada darah yang membeku dan menempel sehingga terbawa aliran darah ke otak. 

Jika bekuan darah tersebut menyerang daerah sistem saraf sensorik, maka akan terjadi kesemutan pada beberapa bagian tubuh atau sebelah. Namun, bila yang terserang adalah daerah sistem motorik, maka cenderung akan terjadi kelumpuhan.

Stroke ringan juga bisa menjadi penyebab dari kesemutan. Biasanya, disebabkan sumbatan pada pembuluh darah di otak, yang mengakibatkan kerusakan saraf setempat. 

Gejala lain yang muncul, rasa kebas separuh badan, lumpuh separuh badan, buta sebelah mata, sukar bicara, pusing, penglihatan ganda dan kabur. 

Gejala berlangsung beberapa menit atau kurang dari 24 jam. Biasanya, terjadi waktu tidur atau baru bangun. Kondisi ini harus ditangani karena bisa berkembang menjadi stroke berat.

"Melakukan pola hidup sehat adalah cara mengatasi kesemutan yang paling mudah. Perbanyak konsumsi vitamin B kompleks karena berfungsi untuk metabolisme tubuh yang memelihara fungsi saraf," saran Catur.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tiyas Septiana

Terbaru