kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.559.000   -11.000   -0,43%
  • USD/IDR 18.127   -75,00   -0,41%
  • IDX 5.163   -118,92   -2,25%
  • KOMPAS100 669   -17,08   -2,49%
  • LQ45 526   -13,32   -2,47%
  • ISSI 173   -3,32   -1,88%
  • IDX30 296   -7,34   -2,42%
  • IDXHIDIV20 397   -8,49   -2,09%
  • IDX80 77   -1,91   -2,42%
  • IDXV30 110   -1,73   -1,55%
  • IDXQ30 100   -2,28   -2,23%

5 Ciri Diabetes pada Anak yang Perlu Diwaspadai Orang Tua


Kamis, 29 Oktober 2026 / 09:22 WIB
5 Ciri Diabetes pada Anak yang Perlu Diwaspadai Orang Tua
ILUSTRASI. Salah satu tantangan dalam mendeteksi diabetes adalah gejalanya yang terkadang tidak disadari. Ini beberapa ciri diabetes pada anak. (dok./Kontan)


Penulis: Rezki Wening Hayuningtyas

KONTAN.CO.ID - Diabetes melitus tidak hanya menyerang orang dewasa, tetapi juga dapat dialami oleh bayi, balita, dan anak-anak. Kondisi ini terjadi ketika kadar gula darah meningkat akibat gangguan produksi atau fungsi insulin, hormon yang membantu tubuh menggunakan glukosa sebagai sumber energi.

Menurut Federasi Diabetes Internasional (IDF), diperkirakan 1,1 juta anak dan remaja berusia di bawah 20 tahun di seluruh dunia hidup dengan diabetes tipe 1. Lebih dari 132.000 anak dan remaja juga didiagnosis dengan diabetes tipe 1 setiap tahunnya.

Salah satu tantangan dalam mendeteksi diabetes pada anak adalah gejalanya yang terkadang tidak disadari oleh orang tua. Padahal, pengenalan tanda sejak dini dapat membantu anak memperoleh pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

Baca Juga: 9 Obat Diabetes yang Umumnya Diresepkan Dokter, Kenali Jenisnya

Ciri Diabetes pada Anak

Lantas, apa saja ciri diabetes pada anak yang perlu diwaspadai? Menyadur dari laman Kemkes, di bawah ini beberapa cirinya:

1. Anak Sering Buang Air Kecil

Frekuensi buang air kecil yang meningkat dari kebiasaan biasanya dapat menjadi salah satu tanda diabetes pada anak. Orang tua perlu memperhatikan jika anak lebih sering ke kamar mandi, popoknya cepat penuh, atau kembali mengompol setelah sebelumnya mampu mengendalikan buang air kecil.

Kondisi ini terjadi ketika kadar glukosa dalam darah terlalu tinggi sehingga ginjal berusaha membuang kelebihan gula melalui urine. Proses tersebut membuat anak lebih sering buang air kecil dan berisiko kehilangan cairan tubuh.

Meski frekuensi buang air kecil dapat berbeda sesuai usia dan asupan cairan, perubahan kebiasaan yang terjadi tanpa alasan jelas perlu diperhatikan. Terlebih jika keluhan ini disertai rasa haus berlebihan.

2. Anak Terus Merasa Haus

Sering buang air kecil dapat menyebabkan tubuh kehilangan lebih banyak cairan. Akibatnya, anak merasa haus dan ingin minum lebih sering daripada biasanya.

Orang tua perlu mewaspadai kondisi ketika anak terus meminta minum meskipun sudah mengonsumsi cukup banyak air. Gejala ini semakin perlu diperhatikan apabila muncul bersamaan dengan peningkatan frekuensi buang air kecil.

Rasa haus berlebihan yang disertai sering buang air kecil dapat menjadi petunjuk adanya gangguan pengendalian gula darah. Namun, kedua gejala tersebut juga dapat berkaitan dengan kondisi lain sehingga pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.

3. Nafsu Makan Meningkat, tetapi Berat Badan Menurun

Anak yang sedang dalam masa pertumbuhan umumnya memiliki kebutuhan energi yang meningkat. Namun, orang tua perlu lebih waspada jika nafsu makan anak bertambah secara tidak biasa, tetapi berat badannya justru menurun tanpa penyebab yang jelas.

Pada penderita diabetes, insulin yang kurang atau tidak bekerja secara efektif membuat glukosa sulit digunakan oleh sel sebagai sumber energi. Tubuh kemudian mencari sumber energi lain dengan memecah cadangan lemak dan jaringan otot.

Proses tersebut dapat menyebabkan berat badan anak berkurang meskipun ia tetap merasa lapar dan makan lebih banyak. Penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan, terutama jika terjadi dalam waktu singkat, perlu segera diperiksakan ke dokter.

4. Anak Mudah Lelah dan Kurang Aktif

Anak yang mengalami diabetes dapat terlihat lebih mudah lelah daripada biasanya. Ia mungkin tidak lagi bersemangat bermain, lebih sering beristirahat, atau kesulitan berkonsentrasi saat belajar.

Keluhan ini dapat terjadi karena tubuh tidak mampu menggunakan glukosa secara optimal sebagai sumber energi. Kadar gula darah yang tinggi juga dapat disertai kehilangan cairan sehingga anak merasa lemas.

Orang tua perlu memperhatikan perubahan aktivitas yang berlangsung terus-menerus, terutama jika anak sebelumnya aktif dan bersemangat. Apabila anak tampak mudah lelah tanpa alasan yang jelas serta mengalami gejala lain, sebaiknya segera konsultasikan kondisinya kepada dokter.

5. Luka Sulit Sembuh dan Kulit Menggelap

Kadar gula darah yang tinggi dapat mengganggu sejumlah proses dalam tubuh, termasuk mekanisme penyembuhan luka. Akibatnya, luka pada anak mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih dan risiko infeksi dapat meningkat.

Selain luka yang sulit sembuh, diabetes juga dapat berkaitan dengan perubahan warna kulit berupa area yang lebih gelap dan menebal. Kondisi ini disebut akantosis nigrikans dan sering terlihat pada lipatan leher, ketiak, atau selangkangan.

Perubahan tersebut dapat berkaitan dengan resistensi insulin, yaitu kondisi ketika sel tubuh kurang merespons insulin secara efektif. Gejala ini dapat ditemukan pada anak dengan risiko diabetes tipe 2, tetapi tidak cukup untuk memastikan diagnosis tanpa pemeriksaan medis.

Baca Juga: 8 Pola Makan Sehat untuk Penderita Diabetes Melitus, Jaga Gula Darah

Kenali Gejala Lain yang Perlu Diwaspadai

Selain 5 tanda di atas, diabetes pada anak juga dapat disertai pandangan kabur, sakit perut, mual, muntah, atau infeksi jamur yang berulang. Pada bayi, ruam popok yang berulang juga perlu diperhatikan, terutama jika disertai tanda lain.

Gejala diabetes tipe 1 pada anak dapat muncul secara tiba-tiba dan berkembang dengan cepat. Sementara itu, diabetes tipe 2 sering berkembang secara bertahap sehingga gejalanya lebih sulit dikenali.

Orang tua juga perlu mengetahui riwayat diabetes dalam keluarga. Faktor genetik dapat berperan dalam risiko diabetes, meskipun anak tanpa riwayat keluarga juga dapat mengalaminya. Risiko diabetes tipe 2 pada anak dapat berkaitan dengan sejumlah faktor, termasuk berat badan berlebih dan kurangnya aktivitas fisik.

Segera bawa anak ke fasilitas kesehatan jika muncul gejala yang mengarah pada diabetes, terutama jika anak sering buang air kecil, terus merasa haus, dan mengalami penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas. Dokter dapat melakukan pemeriksaan, termasuk tes gula darah, untuk mengetahui kondisi anak.

Jika anak mengalami muntah berulang, nyeri perut, napas cepat atau dalam, napas berbau seperti buah, maupun penurunan kesadaran, segera cari pertolongan medis darurat. Gejala tersebut dapat menandakan komplikasi diabetes yang serius.

Mengenali ciri diabetes pada anak sejak dini membantu orang tua mengambil langkah yang tepat. Meski demikian, gejala saja tidak cukup untuk memastikan diagnosis. Pemeriksaan oleh tenaga medis diperlukan agar anak memperoleh penanganan sesuai kondisi kesehatannya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Terpopuler
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×