kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45963,73   -4,04   -0.42%
  • EMAS1.324.000 1,38%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

4 Alasan Penyebab Banyaknya Anak Muda Bunuh Diri, Yuk Pahami Sejak Dini


Kamis, 02 November 2023 / 15:14 WIB
4 Alasan Penyebab Banyaknya Anak Muda Bunuh Diri, Yuk Pahami Sejak Dini
ILUSTRASI. 4 Alasan Penyebab Banyaknya Anak Muda Bunuh Diri, Yuk Pahami Sejak Dini.


Penulis: Tiyas Septiana

Bunuh Diri -  Kasus anak muda, mulai dari mahasiswa bahkan anak SD yang memilih bunuh diri belakangan ini sering diberitakan oleh media. 

Ada banyak alasan mengapa anak-anak muda tersebut menyerah dan memilih untuk mengakhiri hidupnya seperti menghadapi jalan buntu, kegagalan yang sudah tidak mungkin ditemukan jalan keluarnya, hingga hilangnya kepercayaan pada diri sendiri.

Hudaniah, Dosen Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menjelaskan bahwa permasalahan yang membuat seseorang memilih untuk bunuh diri itu sangat beragam dan tidak bisa ditebak.

“Sejauh ini, tidak ada psikolog yang membocorkan permasalahan yang diceritakan kliennya. Tapi menurut penelitian, ada empat hal yang menjadi permasalahan utama,” jelasnya, dikutip dari situs UMM.

Baca Juga: 10 Tanda Ginjal Anda Bermasalah Ini Wajib Diketahui, Cek Apa Saja Tandanya

Alasan penyebab anak muda bunuh diri

Hudan menjelaskan, keempatnya mencakup permasalahan interpersonal, intrapersonal, keluarga, dan pendidikan. 

Permasalahan menjadi kasus yang paling banyak dialami oleh remaja. Menurut penelitian, sekitar 30% remaja mengalami permasalahan jenis ini. 

Intrapersonal berhubungan dengan jati dirinya sendiri, apa yang dipikirkan, nilai evaluasi diri, harga diri, dan bagaimana dia mengatasi konflik di dirinya. 

Sementara interpersonal berhubungan dengan penerimaan informasi antar dua orang atau lebih seperti hubungan pertemanan, keluarga, dan lain-lain. 

Media sosial menjadi salah satu hal yang dapat memperkeruh keadaan. Jika merujuk pada penelitian yang disebutkan oleh dosen psikologi itu, penggunaan media sosial memiliki dampak bagi kesehatan mental. 

“Seringnya, saat kita terpuruk, kita cenderung akan mencari informasi yang relevan dengan kondisi kita saat itu. Artinya saat sedang bersedih, kita mencari informasi yang sesuai dengan kesedihan atau biasa kita sebut dengan kegalauan,” jelasnya. 

Selain itu, trauma masa lalu dan ketakutan akan masa depan juga dapat menjadi cikal bakal menyerahnya seseorang. Hudan menegaskan bahwa masa lalu tidak akan bisa diulangi kembali. 

Baca Juga: Penyebab Batu Ginjal, Gejala Penyakitnya, dan Cara Menghancurkan Batu Ginjal

Maka, manusia harus bisa memahaminya dan mencari cara untuk memperbaikinya di masa depan dengan evaluasi diri, melakukan pendekatan, dan berusaha agar hal tersbut tidak terulang kembali.

Orang yang sedang dalam masalah tentunya membutuhkan kepekaan orang di sekitarnya. Dibutuhkan sensivitas tinggi dari orang-orang terdekatnya untuk mengetahui apa yang sedang ia alami.

Karena orang yang terlihat bahagia di depan itu bisa jadi sedang mengalami masalah besar namun tidak ingin memperlihatkannya. 

Hudan mengatakan, mereka yang mengalami masalah biasanya ada perubahan dari sikapnya. Bisa dilihat dari  cara berpakaian, produktivitas, atau yang lainnya. 

Salah satu pertolongan pertama yang bisa dilakukan oleh orang terdejat adalah menjadi pendengar yang baik bagi mereka yang membutuhkan. 

Begitupun dengan memberikan dukungan, baik moral maupun materiil kepada mereka.

“Merasa capek itu boleh, tapi jangan berhenti di capeknya. Harus bisa  menjadi lebih kuat. Memberi kekuatan bagi mereka yang akan menyerah. Perlu ada peningkatan kepekaan sosial. Jika kita saling menguatkan, Insyaallah kita bisa saling bantu mengatasi masalah,” tandasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×