CLOSE [X]

4 Alasan alpukat baik dikonsumsi penderita diabetes tipe II

Rabu, 08 September 2021 | 14:39 WIB   Reporter: Tri Sulistiowati
4 Alasan alpukat baik dikonsumsi penderita diabetes tipe II

ILUSTRASI. Alpukat


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Alpukat buah yang rendah karbohidrat namun mengenyangkan. Alpukat disebut baik dikonsumsi penderita diabetes tipe II, ini alasannya. 

Penyakit diabetes umum diderita masyarakat tidak hanya di tanah air tapi hampir di seluruh dunia. 

Baca Juga: Mengandung vitamin dan mineral, gula aren baik untuk penderita diabetes?

Asal tahu saja, penyakit yang berhubungan dengan kadar gula darah ini dibagi dalam dua tipe. 

1. Diabetes tipe I

Penyakit diabetes tipe I merupakan kondisi dimana tubuh tidak bisa memproduksi hormon insulin. 

2. Diabetes tipe II 

Penyakit diabetes tipe II merupakan kondisi sel-sel tubuh kurang sensitif terhadap hormon insulin. Tubuh penderita diabetes II masih bisa memproduksi hormon insulin secara normal. 

Mengutip dari NDTV.com, penyakit diabetes muncul karena gaya hidup yang buruk. 

Para penderita diabetes tipe II wajib menjalani perawatan untuk menurunkan kadar gula darah. Selain itu, mereka wajib menjalankan pola hidup sehat untuk mengendalikan kadar gula darah.

Penderita diabetes tipe II juga harus selektif dalam mengonsumsi makanan. Hal ini penting untuk menjaga kadar gula darah. 

Mengutip dari Healthline, alpukat baik untuk dikonsumsi para penderita diabetes tipe II. 

Asal tahu saja, alpukat merupakan buah yang rendah karbohidrat, rendah lemak, dan tinggi serat. Selain itu, alpukat mengandung potasium, beta sitoterol, karotenoid, vitamin K, D, E, C, folat, dan serat. 

Berikut empat alasan alpukat baik untuk penderita diabetes tipe II.

1. Tidak menyebabkan lonjakan gula darah 

Alpukat mengandung karbohidrat rendah, artinya buah ini memberikan sedikit efek pada kadar gula darah. 

Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Nutrition Journal menyebutkan alpukat tidak secara signifikan mempengaruhi kadar gula darah. 

Alpukat baik dikonsumsi oleh penderita diabetes karena mengandung serat tinggi. 

2. Sumber serat yang baik 

Setengah alpukat berukuran kecil mengandung sekitar 5,9 gram karbohidrat dan 4,6 gram serat. 

Menurut National Academies, asupan serat harian mininum yang direkomendasikan untuk orang dewasa adalah 

  • Perempuan 50 tahun ke bawah: 25 gram 
  • Perempuan di atas 50 tahun: 21 gram 
  • Laki-laki 50 tahun ke bawah: 38 gram 
  • Laki-laki di atas 50 tahun: 30 gram 

Sebuah tinjauan 2012 yang diterbitkan dalam Journal of American Board of Family Medicine menyebutkan suplemen serat untuk diabetes tipe II bisa menurunkan kadar gula darah puasa dan kadar A1c. 

3. Menurunkan berat badan dan meningkatkan sensitivitas insulin 

Menurunkan berat badan bisa meningkatkan sensitivitas insulis dan mengurangi risiko penyakit komplikasi. 

Lemak sehat yang ditemukan dalam alpukat bisa membantu tubuh merasa kenyang lebih lama. Dalam sebuah penelitian, menambahkan setengah alpukat saat makan siang bisa meningkatkan kepuasan makan sekitar 26% dan penurunan keinginan untuk makan lebih banyak sekitar 40%. 

Ketika perut merasa kenyang lebih lama, Anda akan cenderung tidak ingin mengemil. 

Sebuah penelitian 2007 menyebutkan diet yang tinggi lemak tak jenuh tunggal bisa meningkatkan sensitivitas insulin. 

4. Kaya lemak sehat 

Alpukat mengandung lemak sehat yang bisa meningkatkan kadar kolesterol baik dan menurunkan kolesterol jahat. 

Bahkan, lemak sehat tersebut bisa menurunkan risiko serangan jantung dan stroke. 

Risiko konsumsi alpukat 

Alpukat memang baik dikonsumsi para penderita diabetes II. Meskipun memberikan manfaat baik, sebaiknya Anda mengonsumsi alpukat secukupnya. 

Sebab, alpukat bisa meningkatkan berat badan tubuh bila dikonsumsi secara berlebihan. Asal tahu saja, satu buah alpukat mengandung sekitar 250-300 kalori. 

Baca Juga: 5 Obat batuk pilek alami yang mudah dibuat sendiri di rumah

Selanjutnya: Asam lambung naik? Ini 6 buah yang ampuh meredakan gejala asam lambung tinggi

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tri Sulistiowati

Terbaru