3 Kategori Anak Berkebutuhan Khusus dan Contohnya yang Perlu Diketahui Orangtua

Rabu, 28 Desember 2022 | 16:51 WIB   Penulis: Tiyas Septiana
3 Kategori Anak Berkebutuhan Khusus dan Contohnya yang Perlu Diketahui Orangtua

ILUSTRASI. 3 Kategori Anak Berkebutuhan Khusus dan Contohnya yang Perlu Diketahui Orangtua.


KONTAN.CO.ID -  Kebanyakan masyarakat menganggap bahwa anak berkebutuhan khusus atau ABK hanya mengarah pada satu jenis saja. 

Padahal terdapat tiga jenis kategori ABK yang cukup umum ditemui di masyarakat saat ini. 

Bersumber dari Sekolah Luar Biasa (SLB) Pelita Nusa, kategori anak anak berkebutuhan khusus yakni kesulitan belajar umum, kesulitan belajar spesifik, dan Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD). 

Apa yang dimaksud dengan ketiga jenis kategori ABK tersebut? Simak rangkumannya berikut ini dari situs SLB Pelita Nusa.

Baca Juga: Hati-Hati, Ini Ciri-Ciri Kolesterol Tinggi yang Harus Diwaspadai dan Cara Mencegahnya

Kategori kesulitan belajar umum 

Kategori anak berkebutuhan khusus ini adalah kesulitan yang ditemui pada individu yang memang mengalami gangguan neurologis. Beberapa ABK yang masuk kategori kesulitan belajar umum yakni:

  • Tuna grahita
  • Autism spectrum disorder (autis, Asperger, syndrome) 
  • Down syndrome
  • Rett syndrome
  • Childhood disintegrative disorder 
  • Gangguan dengar dan gangguan lihat berat
  • Celebral palsy, dan sindrom-sindrom lainnya

kesulitan belajar ini ditemukan pada kondisi dimana individu tersebut memiliki potensi kecerdasan/tingkat intelegensi yang di bawah rata-rata (skor IQ >90).

Karena potensinya yang berada di bawah rata-rata, dapat diduga bahwa individu tersebut kesulitan untuk menerima dan menguasai materi pelajaran sesuai dengan seharusnya. 

Bahkan individu tersebut bukan hanya kesulitan mencerna materi pelajaran, namun materi ketrampilan kehidupan dasar pun mungkin kesulitan.

Contoh kategori anak berkebutuhan khusus kategori kesulitan belajar umum:

1. Slow leaner atau anak lamban belajar ialah mereka memiliki prestasi belajar rendah (d ibawah rata-rata anak pada umumnya) pada salah satu atau seluruh akademik, namun bukan tergolong anak keterbelakangan mental. Skor tes IQ nya menunjukkan antara 70-90 .

2. Retardasi mental (tuna grahita) yang merupakan individu yang secara signifikan memiliki intelegensi di bawah intelegensi normal dengan skor IQ sama atau lebih rendah dari 70. Para tuna grahita mengalami hambatan dalam tingkah laku dan penyesuaian diri. Semua itu berlangsung atau terjadi pada masa perkembangannya.

Baca Juga: Mau Kirim Video tapi Kebesaran? Ini 6 Aplikasi Android Terbaik untuk Kompres Video

3. Anak dengan gangguan spektrum autis. Autistic disorder adalah gangguan atau abnormalitas perkembangan pada interaksi sosial dan komunikasi serta ditandai dengan terbatasnya aktifitas dan ketertarikan. 

Perilaku autistic digolongkan dalam dua jenis, yaitu perilaku yang eksesif (berlebihan) dan deficit (berkekurangan). Yang termasuk perilaku eksesif adalah hiperaktif dan tantrum (mengamuk) berupa menjerit, menggigit, mencakar, memukul, mendorong. 

Perilaku deficit ditandai dengan gangguan bicara, perilaku social kurang sesuai, deficit sensori sehingga dikira tuli, bermain tidak benar dan emosi yang tidak tepat.

Kategori kesulitan belajar spesifik 

Kesulitan belajar spesifik menunjukkan suatu kondisi dimana anak/individu yang diyakini mempunyai kecerdasan normal (bahkan ada yang memiliki kecerdasan diatas rata-rata), ternyata mengalami kesulitan yang signifikan dalam beberapa area perkembangan tertentu dalam kehidupannya.

Area perkembangan yang mengalami kesulitan itu ternyata spesifik meliputi bidang-bidang akademis seperti (utamanya) kemampuan baca, tuli, hitung. 

Kesulitan belajar spesifik inilah yang disebut sebagai disleksia (kesulitan belajar terutama di area berbahasa tulisan, bahasa lisan, dan bahasa sosial), diskalkulia (kesulitan belajar terutama di area berhitung) dan disgrafia (kesulitan belajar terutama di area menulis).

Disleksia Disleksia berasal dari Bahasa Greek, yakni dari kata “dys” yang berarti kesulitan, dan kata “lexis” yang berarti bahasa. Secara harfiah berarti kesulitan dalam berbahasa.

Secara terminology disleksia merupakan suatu kondisi pemrosesan input/informasi yang berbeda (dari anak normal) yang seringkali ditandai dengan kesulitan dalam membaca yang mempengaruhi area kognisi seperti: 

  • Daya ingat, 
  • Kecepatan memproses input, 
  • Kemampuan pengaturan waktu, 
  • Aspek koordinasi dan pengendalian gerak, 
  • Kesulitan visual dan fonologis. 

Disleksia seringkali bergandengan dengan disgrafia (kesulitan menulis) dan diskalkulia (kesulitan berhitung).

Baca Juga: Mengenal 5 Simbol Pancasila pada Garuda Pancasila beserta Maknanya

Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) 

ADHD atau attentiom deficit hyperactivity disorder dalam Bahasa Indonesia berarti gangguan pemusatan perhatian disertai hiperaktif. 

ADHD sama dengan kurang pemusatan perhatian ditambah implulsivitas ditambah hyperaktivitas. Seseorang dapat memenuhi salah satu kriteria ADHD yaitu kurang perhatian (inattention) atau hiperaktivitas dan implusif, atau keduanya.

Kondisi ini terjadi selama periode paling tidak enam bulan, yang dapat mengakibatkan pertumbuhan seseorang tersebut menjadi tidak sesuai dengan tingkat pertumbuhan usia normal. 

Berdasarkan penjelasan d iatas, maka ADHD merupakan hambatan seorang individu dalam pemusatan perhatian yang disertai perilaku hyperaktivitas.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tiyas Septiana

Terbaru