23% Penyumbang Stunting dari Bayi Dalam Kandungan, Pentingnya Gizi Ibu Hamil

Selasa, 17 Januari 2023 | 12:15 WIB   Reporter: Ratih Waseso
23% Penyumbang Stunting dari Bayi Dalam Kandungan, Pentingnya Gizi Ibu Hamil

ILUSTRASI. Petugas menimbang berat badan balita saat pelayanan posyandu untuk penanganan stunting (gangguan pertumbuhan)


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan, penyumbang angka stunting 23% masalah pada bayi yang belum lahir. Artinya saat bayi masih dalam kandungan, maka Ia menekankan pentingnya gizi bagi ibu hamil.

Oleh karenanya Ia meminta kepada Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dan Kepala Daerah juga fokus pemberian gizi pada ibu hamil, dalam upaya menurunkan angka stunting.

"Itu (masalah bayi dalam kandungan) kontribusinya 23% besar sekali. Sehingga perlu saya ingatkan kepada kepala daerah agar dinas, agar BKKBN, mengingatkan terus mengenai pentingnya gizi pada ibu hamil, dicek apakah anemia atau tidak, dicek bener. Karena kunci ada di situ," tegas Jokowi dalam Kanal Youtube Kementerian Dalam Negeri, Selasa (17/1).

Selain masalah bayi dalam kandungan, penyumbang stunting yang lainnya ialah setelah bayi lahir. Dimana masalah bayi setelah lahir menyumbang 37% angka stunting.

Jokowi menyebut persentase tersebut lebih besar dari masalah sebelum lahir dan lebih sulit mengatasinya.

"Bayi setelah lahir sampai 23 bulan, ini 37% penyumbang stunting itu setelah lahir. Ini lebih sulit penyelesaiannya," kata Jokowi.

Baca Juga: Jokowi Minta APBN 2023 Fokus Pada Program-Program Produktif

Oleh karena itu, Ia menegaskan saat intervensi masa kritis tersebut penanganannya tidak dengan memberikan makanan ultra proses.

Pasalnya, makanan ultra proses bukan jadi jalan mencegah terjadinya stunting usai bayi lahir. Justru makanan alami yang kayak akan protein hewani dan zat besi harus diberikan untuk cegah terjadinya stunting.

"Hati ayam, urusan telor, teri nasi, ini kita harus ngerti, kalau ngga ngerti bagaimana bisa kita mengintervensi. Sekali lagi, makanan alami itu akan semakin baik," jelasnya.

Kepala daerah juga diminta untuk aktif mengingatkan agar Puskesmas dan Posyandu aktif membantu calon ibu dan ibu yang memiliki balita mengenai stunting.

"Ingatkan mengenai anemia, ini harus dicek berarti. Ingatkan mengenai ASI eksklusif selama 6 bulan," kata Jokowi.

Adapun yang tak kalah penting dari menurunkan angka stunting ialah memonitor di lapangan. Maka pemanfaatan teknologi dalam penurunan stunting menjadi penting. Dimana platform aplikasi dapat digunakan untuk memonitor kondisi ibu dengan balita dan calon ibu.

Penurunan prevalensi stunting menjadi target yang terus dilakukan pemerintah. Dimana tahun 2030 Indonesia akan mencapai bonus demografi. Sehingga stunting harus menjadi target penyelesaian bagi pengembangan SDM Indonesia.

Di tahun 2014 angka prevalensi stunting Indonesia masih 37%. Kemudian pada 2021 sudah turun berada di angka 24%. Tahun ini Ia memperkirakan angka stunting akan kembali turun di level 21%. Hingga pada 2024 target prevalensi stunting ialah dibawah 14%.

"Saya kira di 2022 ini berada di angka 21 kira-kira. Sudah turun memang drastis. Tapi target kita di tahun 2024 harus berada di bawah 14%. Bukan hal yang mudah. Tetapi sekali lagi, kalau kerja keras kita seperti saat kita bekerja mengatasi pandemi, saya yakin ini bukan persoalan yang susah diselesaikan. Datanya ada. hati-hati untuk stunting," tegasnya.

Baca Juga: RUU Kesehatan Harus Bisa Menjawab Persoalan Faktual Saat Ini

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan, untuk mengatasi stunting pihaknya akan memprioritaskan pada 2 intervensi dari 11 intevensi yang dicanangkan. Dimana dua intevensi tersebut dilakukan pada risiko penyebab tertinggi dari stunting.

"Kita kan ada 11 intervensi tapi diprioritaskan 2. Karena stunting itu yang faktor risiko paling besar itu ada dua, satu sebelum melahirkan dan dua intevensi di bayinya," kata Budi.

Budi menegaskan, intervensi pada saat Ibu hamil ialah memastikan agar gizi pada ibu hamil tidak boleh kekurangan. Kemudian intervensi pada bayi, khususnya usia 6 sampai 24 bulan.

"Khususnya usia 6 sampai 24 bulan itu nggak boleh infeksi. Jadi harus ada imunisasi sama nggak boleh kurang gizi udah dua itu, ada 11 program," kata Budi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Yudho Winarto

Terbaru