| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.392
  • SUN97,14 0,42%
  • EMAS609.032 -0,17%
  • RD.SAHAM 0.66%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Sexomnia, gangguan tidur berupa aktivitas seksual

Minggu, 02 Juli 2017 / 13:39 WIB

Sexomnia, gangguan tidur berupa aktivitas seksual

JAKARTA. Ternyata, selain sleep walking (berjalan sambil tidur), ada pula sexomnia alias seksomnia (melakukan aktivitas seksual saat tidur).

Gangguan tidur ini seolah “melengkapi” sekian banyak jenis gangguan tidur seperti insomnia (sulit tidur), hipersomnia (mudah tertidur) juga berjalan di saat tidur (sleep walking).

Sexomnia mencuri perhatian media belum lama ini setelah kasus unik yang dialami oleh pria asal Denmark.

Pria ini dibebaskan dari tuduhan perkosaan terhadap dua gadis remaja oleh hakim pengadilan karena terbukti menderita gangguan tidur jenis sexomnia.

Seperti dilansir Associated Press, dua gadis remaja itu pulang bersama pria berusia 31 tahun ini ke apartemen miliknya setelah sebuah pesta pada tahun 2011.

Salah satu gadis terbangun saat pria tersebut memeluknya, dan gadis ini pun kabur dan melaporkan peristiwa ini kepada pihak yang berwenang.

Berdasarkan kesaksian di pengadilan, gadis ini setuju dengan pengakuan si pria bahwa dirinya memang tertidur ketika hendak memperkosa.

Pria ini pun mengajukan bukti pemeriksaan medis dari dokter yang yang menyimpulkan bahwa ia sebenarnya menderita sexomnia.

Sexomnia yang juga dikenal dengan "sleep sex" belum lama ini diakui oleh komunitas medis sebagai salah satu jenis gangguan tidur.

Hampir sama seperti berjalan sleep walking, sexomnia juga dianggap sebagai parasomnia, suatu kelainan yang disebabkan otak tidak dapat membedakan saat tidur maupun terjaga.

Studi para ahli pada 2010 melakukan analisa terhadap 832 pasien yang menderita gangguan tidur. Ternyata 7,6 persen di antaranya menderita sexomnia. Temuan ini juga menyimpulkan bahwa sexomnia lebih banyak dialami oleh pria dibandingkan wanita.

Para ahli gangguan tidur dan seksolog sejauh ini masih belum dapat memastikan apa yang sebenarnya penyebab dari gangguan ini.

Namun ada faktor pemicu yang memperbesar risiko dari mengalami gangguan ini, seperti stres, alkohol, penggunaan narkoba, dan kurang tidur.

Mereka yang mengalami gangguan tidur seperti sleep walking lebih rentan juga menderita gangguan ini. (Mohamad Takdir)

 


Sumber : intisari online
Editor: Hendra Gunawan

KESEHATAN

Komentar
TERBARU
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0012 || diagnostic_api_kanan = 0.0443 || diagnostic_web = 0.2107

Close [X]
×