| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.392
  • SUN97,14 0,42%
  • EMAS609.032 -0,17%
  • RD.SAHAM 0.66%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Pornografi bisa jadi racun dalam hubungan

Jumat, 04 Agustus 2017 / 20:51 WIB

Pornografi bisa jadi racun dalam hubungan

JAKARTA. Melihat pornografi tentu bukan kewajiban. Tetapi di antara mereka yang sangat menikmatinya, ada yang melihat terlalu dini (usia terlalu muda) dan terlalu terlambat (jauh setelah pubertas).

Sebuah riset yang dilakukan oleh peneliti dari Universitas Nebraska mengungkap, perbedaan waktu menemukan pornografi itu ternyata punya akibat berbeda.

Alyssa Bischmann bersama timnya melakukan survei pada 330 mahasiswa pria heteroseksual. Ia menemukan, rata-rata pria mulai mengenal pornografi pada usia 13 tahun.

Dari sekian banyak mahasiswa yang disurvei, usia paling muda mengenal film porno adalah 5 tahun sementara yang tertua 26 tahun.

Bischmann dan timnya menemukan bahwa mereka yang mengenal dan akhirnya maniak pornografi pada usia terlalu dini akan tumbuh menjadi pria yang "sexist".

Seksisme membuat pria memandang rendah perempuan. Akibatnya, hubungan dengan lawan jenis pun tak berjalan baik.

Pada saat yang sama, pria yang mengenal pornografi terlalu dini cenderung mengalami kegelisahan ketika berhadapan dengan perempuan dalam dunia nyata.

"Pengalaman seksual tidak seperti yang direncanakan atau tidak seperti yang terlihat dalam pornografi," ungkap Christina Richardson yang juga terlibat riset.

Sementara itu, mereka yang "terlambat" mengenal pornografi tetapi kemudian maniak biasanya akan menjadi lebih percaya diri dalam menghadapi perempuan di dunia nyata.

Tapi, Richardson seperti dikutip BBC, Jumat (4/8), mengatakan, mereka "kemungkinan besar akan menikmati gaya hidup sebagai playboy."

Riset yang dipresentasikan di pertemuan American Psychological Association minggu ini belum memerhatikan faktor kelas ekonomi, frekuensi menikmati pornografi, dan faktor demografi lain.

Meski demikian, riset ini bisa memberi gambaran tentang dampak pornografi yang ternyata lebih banyak buruknya.

Terapis seks Peter Saddington mengatakan, "pornografi bisa dan memang punya dampak pada perilaku pria dalam seks."

Selain bisa menyebabkan pria menjadi "sexist", pornografi bisa membuat individu kurang punya keahlian dalam seks yang sebenarnya.

Richardson mengatakan, "pornografi bukan sesuatu yang sehat." Ia mengatakan, dunia butuh role model yang lebih sehat tentang maskulinitas. (Yunanto Wiji Utomo)


Sumber : Kompas.com
Editor: Sanny Cicilia

KESEHATAN

Komentar
TERBARU
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0358 || diagnostic_api_kanan = 0.6179 || diagnostic_web = 2.4804

Close [X]
×