kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR13.923
  • SUN98,38 -0,17%
  • EMAS611.050 0,00%
  • RD.SAHAM 0.66%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Awas, gangguan saraf bisa berujung impotensi

Jumat, 29 April 2016 / 09:49 WIB

Awas, gangguan saraf bisa berujung impotensi

Jakarta. Neuropati merupakan gangguan maupun kerusakan pada saraf tepi. Kesemutan, kram, dan kebas merupakan gejala yang paling sering ditemui pada pasien neuropati.

Mulanya, gejala neuropati mungkin tak terlalu mengganggu. Namun, jika dibiarkan, kerusakan pada saraf tepi bisa semakin parah.

Konsultan Neurologis yang juga Ketua Umum PP Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) Moh Hasan Machfoed, mengatakan, neuropati bahkan bisa menyebabkan impotensi atau terjadi neuropati otonom. "Kalau dibiarkan, lama-lama neuropatinya menyebabkan impotensi, gangguan gerakan penis, jadi enggak bisa ereksi. Otot-ototnya lemah," jelas Hasan di sela-sela acara kampanye Lawan Neuropati di Jakarta, Rabu (27/6/4/2016).

Hasan menjelaskan, kerusakan saraf tepi membuat rangsangan berkurang, sehingga sulit ereksi. Peredaran darah juga terganggu. Contoh lainnya, kerusakan saraf tepi menyebabkan bagian ujung tubuh, seperti tangan dan kaki sering mati rasa.

Pada tahap lanjut, pasien neuropati mengalami penurunan sensasi rasa, seperti tidak terasa sakit ketika tergores benda tajam, sehingga tak sadar jika terdapat luka.

Ketua Kelompok Studi Neurofisiologi dan Saraf Tepi PERDOSSI Pusat dr. Manfaluthy Hakim, SpS (K) menambahkan, neuropati yang tidak segera ditangani juga bisa berkembang menjadi gangguan penurunan motorik, penurunan berat badan, Carpal Tunnel Syndrome, hingga depresi.

"Neuropati bisa menurunkan kualitas hidup seseorang. Misalnya, akibat depresi, produktivitas menurun," kata Luthy.

Luthy menjelaskan, neuropati bisa terjadi karena penuaan, diabetes, dan kekurangan vitamin B1 dan B12.

Faktor gaya hidup juga meningkatkan risiko neuropati, seperti sering mengetik di gadget maupun komputer, mengendarai motor dan mobil, duduk lama dengan posisi yang sama, melakukan gerakan berulang, main games, dan memakai sepatu hak tinggi.

(Dian Maharani)


Sumber : Kompas.com
Editor: Adi Wikanto

PENYAKIT SARAF

Komentar
TERBARU
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0008 || diagnostic_api_kanan = 0.0407 || diagnostic_web = 0.2304

Close [X]
×